nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menanti Kebangkitan Nasional Jilid II

Syamsul Anwar Khoemaeni, Jurnalis · Rabu 20 Mei 2015 06:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 05 20 337 1152261 menanti-kebangkitan-nasional-jilid-ii-NljxdxjkWO.jpg Foto: myzone

JAKARTA - Hari kebangkitan nasional yang diperingati tiap 20 Mei, tak lepas dari kemunculan kesadaran untuk lepas dari penjajahan. Dimulai dari berdirinya organisasi Budi Utomo (BU) oleh para siswa Sekolah Kedokteran Stovia, mereka lantas menyebarkan gagasan untuk membesaskan masyarakatnya.

Kini, setelah 107 berdirinya perhimpunan tersebut, muncul sebuah pertanyaan 'adakah kebangkitan nasional jidil II?' Terlebih berdasarkan laporan International Istitute for Magement Development (IMD) tentang pemeringkatan daya saing global, Indonesia menduduki peringkat ke-54.

Menanggapi hal tersebut, sejarahwan Ridwan Saidi menilai, potensi kebangkitan nasional cukup besar. Apalagi melihat persoalan ekonomi Indonesia yang kian terpuruk.

"Industri rumah tangga banyak yang mati, keuangan negara defisit, lalu ekspor kita apa yang diandalkan?" beber Ridwan saat dikonfirmasi Okezone, Selasa (19/5/2015).

Ridwan menambahkan, di tengah konteks globalisasi ekonomi saat ini, pemerintah sudah dianggap tidak mampu menyejahterakan rakyat. Sebab itu, ia mengaku telah muncul kesadaran para buruh serta para kaum kelas menegah yang tengah mengalami kesulitan.

"Para buruh sudah berpendidikan, minimal mereka tamat SMA, kelas menengah juga sudah sadar posisi, tinggal tunggu waktu saja," sambungnya.

Ia lantas membedakan konteks kebangkitan nasional awal 1900-an dengan abad milenium saat ini. Jika dulu penjajahan dilakukan secara terang-terangan, kini rezim kolonial berujud akumulasi modal di negara berkembang.

"Nah, itu kan tergantung pemerintahnya, kuat terhadap tekanan asing atau tidak," pungkasnya.

(hol)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini