nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Prahara Setelah Berdirinya Budi Utomo

Syamsul Anwar Khoemaeni, Jurnalis · Rabu 20 Mei 2015 06:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 05 19 337 1152232 prahara-setelah-berdirinya-budi-utomo-WQgvpFyk0T.jpg Pergerakan Pemuda Boedi Oetomo (Foto: Wikipedia)

JAKARTA - Lahirnya organisasi Budi Utomo (BU) pada 20 Mei 1908, bukan berarti lepas dari permasalahan. Dalam perjalanannya, perhimpunan yang didirikan oleh sembilan siswa sekolah kedokteran Stovia itu lantas bergeser pada perkumpulan para priyayi.

Mantan Wakil Presiden, Mohammad Hatta mengkritisi perubahan yang terjadi pada organisasi yang mulanya ditujukan untuk membebaskan masyarakat itu. Melalui karyanya yang berjudul "Permulaan Pergerakan Nasional" ia menggambarkan bahwa sentimen perjuangan Jawa dan Madura membuat sejumlah tokoh keluar dari organisasi.

"Itulah salah satu sebab Dokter Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Surjaningrat keluar dari BU," tulis Hatta di halaman 8 buku tersebut.

Bahkan, sosok yang paling keras mencibir organisasi tersebut ialah RM Tirto Adisuryo. Siswa Stovia sekaligus pencetus pers pribumi itu tak puas ketika BU jatuh ke tangan angkatan tua yang berkedudukan sebagai priyayi seperti RAA Tirto Koesomo, Bupati Karanganyar. Ia menjabat sebagai ketua pada Kongres kedua setahun kemudian.

"Bukan saja bantuan propaganda serta loyalitasnya tidak digubris, tapi setahun setelah berdiri, BU jatuh ke angkatan tua, para priyayi," tulis Pramoedya Ananta Toer dalam 'Sang Pemula'.

Tak hanya itu, kekuatan kolonial juga turut tercampur dalam organisasi yang digadang-gadang memperjuangkan pribumi itu. Pemerintah Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderal Van Heutsz berhasil masuk dan menanamkan politik etik dalam hal pendidikan, irigasi, dan transmigrasi.

"Tidak mengherankan jika pada akhirnya sekolah-sekolah bikinan BU lalu mengadopsi kurikulum Belanda," lanjut Pram di halaman 120.

Meski demikian, jatuhnya BU ke tangan pemerintah kolonial, bukan berarti meruntuhkan semangat pergerakan. Ernest Francois Euigene (EFE) Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) lantas mendirikan partai berhaluan sosialis, Indische Partij pada 1912.

"Partai tersebut secara terang-terangan menginginkan kemerdekaan melalui jalur parlementer," lanjut Hatta di halaman 17.

Meski waktu itu nama Indonesia belum muncul, tapi cita-cita tersebut menjadi pembahasan di negeri Belanda. Hatta menulis, pada 1923, ia bertemu dengan Douwes Dekker dan menyebut kata Indonesia sebagai cerminan golongan primitif.

Sementara Tirto, lanjut Pramoedya, meneruskan garis perjuangnya melalui Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada 1909. Adapun landasan organisasi tersebut ia namai "Kaum Mardika", terjemahan dari Bahasa Belanda "Vrije Burgers.

"Kaum mardika ialah mereka yang mendapatkan penghidupan bukan dari pengabdian kepada Gubermen (pemerintah kolonial) seperti petani, pedagang, pekerja," tulis Pram.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini