nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Momentum Harkitnas di Masa Revolusi

Randy Wirayudha, Jurnalis · Rabu 20 Mei 2015 06:48 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 05 19 337 1152215 momentum-harkitnas-di-masa-revolusi-2IZiFWprRj.jpg Bung Karno (kanan) menginginkan Peringatan Harkitnas diadakan kali pertama di Yogyakarta 20 Mei 1948

HARI Kebangkitan Nasional (Harkitnas) selalu dijadikan momentum untuk meleburkan semangat kesadaran nasional dan persatuan sebagai satu bangsa yang besar, bangsa Indonesia.

Tapi sejak Republik Indonesia berdiri via Proklamasi 17 Agustus 1945, baru pada 20 Mei 1948 negara kita bisa merayakan untuk kali pertama, di bawah bayang-bayang ancaman Belanda yang masih menganggap Indonesia adalah koloninya.

Ya, baru pada peringatan 40 tahun Harkitnas, tepatnya 20 Mei 1948, peringatan Harkitnas bisa dilakukan untuk pertama kalinya di Ibu Kota Yogyakarta, di berbagai wilayah yang masih diduduki Belanda, sampai di luar negeri oleh para pelajar Indonesia.

“Pada Mei 1948, Bung Karno memanggil Ki Hadjar Dewantara, agar tanggal 20 Mei 1948 diadakan peringatan 40 tahun Kebangkitan Nasional di seluruh Indonesia dan di luar negeri,” begitu kutipan yang terangkum dalam buku ‘Kronik Revolusi Indonesia: 1948’.

Harkitnas pada masa itu juga terjadi ketika bentrokan antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan partai-partai lain masih mengemuka. Pada momentum 40 tahun Harkitnas itu lah Soekarno ingin menyuntikkan semangat persatuan pada para partai yang berseteru itu.

Hasilnya, keluar sebuah manifest yang menyatakan perlunya program nasional untuk semua partai dan organisasi masyarakat (ormas).

Front Demokrasi Rakyat (FDR) bersama Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), punya pernyataan bersama terkait persatuan sikap untuk Indonesia yang merdeka dan demokratis.

Program Nasional itu juga menyentuh sejumlah partai lainnya untuk kemudian, menyusun kepanitiaan yang diisi A.M. Tambunan dari Parkindo (Partai Kristen Indonesia), Sujono Hadinoto dari PNI, Amir Sjafruddin dari Partai Sosialis, Dipa Nusantara Aidit dari PKI, Setiadjit (PBI), M. Saleh Suhadi (Masyumi) dan Saleh Suhadi (Masyumi).

Sayangnya Program Nasional itu gagal sepenuhnya disetujui lantaran pertentangan antarpartai saat itu masih sangat tajam. Sementara itu di Solo, Harkitnas ke-40 justru dimanfaatkan pasukan Panembahan Senopati untuk menggelar aksi protes.

Jika tahun 2015 ini para mahasiswa menggelar aksi 20 Mei menuntut pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang lebih baik, pasukan yang berada di bawah komando Divisi IV itu berparade dan berdemonstrasi menentang Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) TNI.

Mereka menolak Re-Ra yang dicanangkan pemerintah, di mana lima ribu prajurit KPPS dari unsur masyarakat “di-PHK” demi alasan membentuk TNI yang lebih profesional.

Dalam program Re-Ra yang diperintahkan pemerintah, sekitar 90 ribu prajurit dari unsur rakyat “dihapuskan”, sementara sejumlah laskar diharuskan melebur ke dalam TNI.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini