Share

Kronik Heiho dari Front Pasifik Hingga Revolusi

Randy Wirayudha, Okezone · Rabu 22 April 2015 05:59 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 21 337 1138012 kronik-heiho-dari-front-pasifik-hingga-revolusi-goj1xBsVd4.jpg Ilustrasi Heiho

STATUSNYA memang tak se-prestise Pembela Tanah Air (PETA), tapi jangan sangsikan besarnya peran Heiho terhadap revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Heiho merupakan organisasi militer lain bentukan Jepang, selain PETA dan Gyugun. Bedanya, para pemuda Indonesia yang direkrut Heiho tak pernah diberi pangkat tinggi, selayaknya mereka yang menggabungkan diri ke PETA atau Gyugun.

Namun skill militer para anggota Heiho tak kalah cemerlang, terlebih soal perang gerilya yang sangat berarti di kemudian hari, untuk menangkal agresi Belanda yang ingin menguasai nusantara lagi pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945.

Menarik benang merah sejarahnya, Heiho memulai perekrutan pertama bagi para pemuda Indonesia, tepat hari ini, 22 April 72 tahun yang lampau (1943). Heiho lebih kepada pasukan “pembantu” atau cadangan Jepang dalam berlangsungnya Perang Pasifik.

Komando tertinggi tentara pendudukan Jepang di Saigon, memutuskan membentuk Heiho di berbagai wilayah pendudukannya pada 2 September 1942. Tapi baru membuka perekrutannya di Indonesia, tujuh bulan kemudian.

Perekrutan ini jadi kesempatan buat ribuan pemuda Indonesia yang ingin punya karier militer. Kesempatan masuk Heiho juga jadi kesempatan menaikkan strata mereka, terlebih mereka juga digaji Jepang dan yang utama, mereka bisa terhindar dari kerja paksa (romusha).

Tak seperti PETA yang dikhususkan untuk pertahanan jika sekutu memijak Indonesia, Heiho justru turut diikutkan ke berbagai medan pertempuran Perang Pasifik yang sesungguhnya, seperti di Filipina, Thailand, Morotai, Rabaul (kini Papua Nugini), Balikpapan dan Burma (kini Myanmar).

Tapi lantaran masih kurangnya pelatihan, mereka lebih sering dijadikan tameng peluru atau martir bom bunuh diri. Ketika Jepang menyerah, jumlah pasukan Heiho saat itu diperkirakan sebesar 42 ribu personel, baik Heiho darat maupun Heiho Kaigun (laut).

Heiho kemudian dibubarkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan dimasukkan ke berbagai unit-unit Badan Keamanan Rakyat (BKR, cikal-bakal TNI).

Mereka yang tergabung dalam Heiho Kaigun, lebih banyak dileburkan ke Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), sementara Heiho darat dalam berbagai kesatuan darat BKR.

Tapi tak semua bekas Heiho laut masuk ALRI. Ignatius Slamet Rijadi contohnya. Salah satu tokoh kombatan besar ini justru diikutkan di pasukan darat dengan menjadi komandan Resimen 26 Surakarta (Solo).

Seiring berjalannya waktu, Slamet Rijadi menyandang pangkat Overste (Letnan Kolonel). Namanya kian harum mengomandoi Brigade V/Panembahan Senopati dalam “Serangan Oemoem Solo”, 7-10 Agustus 1949 yang konon, lebih dahsyat dari “Serangan Oemoem 1 Maret (1949)" di Yogyakarta, lantaran berlangsung 96 jam!

Tak seperti para bekas PETA seperti Panglima Besar Jenderal Soedirman atau Jenderal (anumerta) Achmad Jani, eks-Heiho hanya segelintir yang dikemudian hari punya nama besar.

Selain Slamet Rijadi, segelintir eks-Heiho yang namanya menjulang adalah Untung bin Syamsuri. Dalam buku “Untung, Cakrabirawa dan G30S”, sosok dengan nama lahir Kusman itu masuk Heiho sejak usia 17 tahun. Pendidikannya yang rendah tetap membolehkannya mengenal dunia militer.

Setelah Heiho dibubarkan, Untung – sebagaimana para eks-Heiho, PETA dan Gyugun, ikut terlibat revolusi, di mana Untung bergabung di Batalyon Sudigdo. Terlepas dari perannya di masa revolusi, sayangnya Untung mengakhiri kariernya dengan aib.

Dia terlibat G30S (Gerakan 30 September) 1965 yang berujung pada kematian sejumlah tokoh teras Angkatan Darat, salah satunya Achmad Jani. Setahun setelah peristiwa berdarah itu, Untung dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat, pasca-sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub).

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini