Share

Ketika Para Kartini Unjuk Gigi di Masa Revolusi

Randy Wirayudha, Okezone · Selasa 21 April 2015 05:40 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 20 337 1137395 ketika-para-kartini-unjuk-gigi-di-masa-revolusi-jKDVwKjmOg.jpg Ilustrasi Laswi (Lasjkar Wanita) (Foto: Randy Wirayudha/Okezone)

KESETARAAN kaum perempuan dan laki-laki tak hanya terjadi di bangku sekolah. Hal itu seperti yang didengungkan Raden Ajeng Kartini terkait hak perempuan akan pendidikan. Namun, status perempuan tak mencegah sejumlah “srikandi” di era revolusi mempertahankan kemerdekaan untuk ikut menyambung nyawa.

Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, para perempuan merasa harus turut berperan dengan para kombatan laki-laki, di bawah bendera Lasjkar Wanita Indonesia (Laswi). Kelaskaran para kartini ini terbentuk ada 12 Oktober 1945.

Sepak terjang besar mereka terjadi pertama kali dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November dan Peristiwa Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946.

“Laswi pertama kali muncul (berperan besar) ketika Pertempuran Surabaya dan Bandung Lautan Api. Setiap daerah punya penggagas Laswi tersendiri. Biasanya Laswi dibagi tiga seksi: Laswi Palang Merah, Laswi dapur umum, dan Laswi tempur,” terang Firman Hendriansyah, aktivis penggiat sejarah asal Bandung kepada Okezone.


Mungkin rekan Kartini yang paling tersohor, terutama di wilayah Bandung adalah Zus –sebutan perempuan saat itu– Susilawati dan Zus Willy. Keduanya ditakuti musuh lantaran santer terdengar kabar bahwa mereka tak segan memenggal kepala pasukan lawan.

Di luar Pulau Jawa ada Emmy Saelan yang tak segan unjuk gigi, sekaligus mengorbankan jiwa ketika ikut barisan laskar pimpinan Robert Wolter Monginsidi, 23 Januari 1947.

“Waktu dia terjepit terkepung (pasukan) Belanda, ketika mau ditahan, dia malah meledakkan diri dengan granat tangan. Pasukan Belanda mati semuanya, termasuk Emmy juga gugur,” tambahnya.

Hal yang tidak kalah mengagumkan adalah Herlina Kasim atau yang dikenal dengan julukan “Pending Emas”.

Seorang sipil yang dengan sukarela ingin ikut Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat yang masih dalam cengkeraman Belanda, medio Desember 1961 sampai Agustus 1962.

“Dia mengajukan permohonan pada Kodam XVI Pattimura agar dapat diterjunkan di Irian Barat. Dia bergabung dengan srikandi pejuang sukarelawati Trikora,” tambah Firman.

Keterlibatan Herlina pada infiltrasi ke Irian sedianya tak seperti yang dikatakan selama ini bahwa dia mendarat di Irian dengan terjun payung, melainkan dengan kapal selam.

“Herlina tidak ikut terjun payung, karena risikonya tertembak dan salah mendarat. Tetapi, dia diselundupkan dengan kapal selam ke Irian,” tambah Firman lagi.

“Jadi, memang sengaja digembar-gemborkan (Herlina terjun payung), agar menaikkan mental dan nasionalisme, bahwa perempuan juga bisa bertempur dengan terjun payung. Tapi, aslinya dengan kapal selam,” lanjutnya.

Usai Operasi Trikora dirampungkan dan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi, Herlina dihadiahi penghargaan Pending Emas 500 gram dari Presiden Soekarno karena kegigihannya dalam Operasi Trikora. Dari situlah julukan Pending Emas melekat kepadanya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini