Share

PRRI Dibekingi AS, Achmad Jani Minta Bantuan WN AS

Randy Wirayudha, Okezone · Jum'at 17 April 2015 06:56 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 16 337 1135503 prri-dibekingi-as-achmad-jani-minta-bantuan-wn-as-seVAAsbJSG.jpg Kolonel Achmad Jani kala mempersiapkan "Operasi 17 Agustus" (Foto: Wikipedia)

IBARAT berburu serigala dengan serigala, Kolonel Achmad Jani (EYD: Ahmad Yani) meminta bantuan sahabatnya, seorang warga negara Amerika Serikat (WN AS), George Benson untuk bisa menyempurnakan penyusunan “Operasi 17 Agustus”, menumpas gerakan Pemerintah Republik Revolusioner Indonesia (PRRI).

Sebelumnya diceritakan Kolonel Jani diperintahkan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Abdoel Haris Nasution, untuk meredam gerakan PRRI di pusatnya, di Kota Padang.

PRRI merupakan gerakan pembelotan pada pemerintah pusat yang sudah jadi rahasia umum, bahwa mereka dibekingi AS via CIA (Central Intelligence Agency). Mereka sebelumnya memberi bantuan beragam senjata mitraliur dengan kapal selam dari Thailand, pada Februari 1958.

AS tak ingin wilayah-wilayah kaya minyak, seperti di Riau, terus dikuasai (Presiden RI pertama) Soekarno yang mulai cenderung memihak sayap kiri, sosialis dan komunis dalam pergaulan internasional. Hal itu membuat cemas Menteri Luar Negeri AS saat itu, John Foster Dulles, dalam memoar wartawan AS, Keyes Beech, “Not Without the Americans”.

“Jangan biarkan Soekarno sampai terikat dengan komunis. Dan diatas segal-galanya, lakukan apa saja yang dapat Anda lakukan agar Sumatera (pulau penghasil minyak) tidak sampai jatuh ke tangan komunis,” tegas Dulles.

Di sisi lain, Kolonel Jani setelah mendapat perintah menyusun operasi gabungan yang dijadwalkan pada 17 April 57 tahun silam, sempat kesulitan mencari informasi dan terlebih peta wilayah Sumatera dan terutama Kota Padang yang jadi sasarannya.

Tapi bantuan segera datang dari Benson, WN AS yang merupakan mantan Atase Militer di Jakarta. Setelah peta Sumatera didapat dari Benson, perancangan operasi segera disusun di rumahnya!

Ya, Kolonel Jani sengaja tak menyusun rencananya di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD), lantaran tingkat kerahasiaan di MBAD rentan dibocorkan oknum-oknum tertentu. Tapi sayangnya kebocoran informasi tetap terjadi gara-gara seorang wartawan asal Turki, Arslan Humbarachi.

Wartawan Turki itu lewat artikelnya di surat kabar Indonesia Observer, justru membeberkan tanggal pendaratan, sasaran, serta kekuatan pasukan yang ikut operasi gabungan.

Kabar kebocoran itu segera sampai ke telinga Kolonel Jani. Tapi dengan kalem, perwira kelahiran Purworejo, Jawa Tengah 19 Juni 1922 itu justru menetapkan operasi jalan terus.

“Kita jalan terus dengan rencana yang sudah di tangan pemberontak. Biar mereka tahu taktik kita,” seru Kolonel Jani.

Kendati pasukan PRRI sudah tahu rencana itu, tetap saja tentara PRRI yang punya kekuatan sekitar 4000 personel bukan tandingan pasukan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) yang diterjunkan, baik Angkatan Darat, Laut dan Udara.

Pemboman dari kapal-kapal Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI, sekarang TNI AL) digencarkan sejak 16 April 1958 dan sehari kemudian, operasi gabungan terbesar saat itu diterjunkan untuk merebut Kota Padang, tanpa perlawanan berarti dari pasukan PRRI.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini