Share

Gagasan Kopassus dari Pertemuan Singkat Slamet Rijadi & Kawilarang

Randy Wirayudha, Okezone · Kamis 16 April 2015 06:20 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 15 337 1134899 gagasan-kopassus-dari-pertemuan-singkat-slamet-rijadi-kawilarang-vE2Xp0s67p.JPG Patung Ignatius Slamet Rijadi, sang penggagas cikal-bakal Kopassus (Foto: Wikipedia)

JAKARTA - Hari ini, 16 April 2015, salah satu pasukan elite kebanggaan Indonesia, Kopassus (Komando Pasukan Khusus), memperingati HUT ke-63. Berbagai tugas sulit dan bahkan hampir mustahil, mampu mereka jalankan sampai mendapati pengakuan dunia internasional.

63 tahun silam, Kopassus lahir dibidani Mayor Mochamad Idjon Djanbi, veteran perwira pasukan elite Belanda, Korps Speciale Troepen (KST), atas perintah Letkol Alex Evert Kawilarang.

Mayor Djanbi yang punya nama lahir Rokus Bernardus Visser, kemudian membentuk Kesatuan Komando Tentara Territorium III/Siliwangi (Kesko TT), pasukan elite pertama cikal-bakal Kopassus, dengan beragam kendala sumber daya.

Seiring berjalannya waktu, perubahan nama dan instansi yang membawahi terjadi, mulai dari 18 Maret 1953 diambil alih Markas Besar TNI.

Tak hanya sampai di situ, perubahan terus bergulir, menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD) pada 25 Juli 1955, kemudian diubah lagi Resimen Pasukan Komando AD (RPKAD), Pusat Pasukan Khusus AD (Puspassus AD) pada 12 Desember 1966, serta Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) pada 17 Februari 1971.

Sementara sebutan Kopassus baru terjadi ketika adanya reorganisasi ABRI, 26 Desember 1986. Pengembangan personel baru muncul pada 25 Juni 1996 dengan lima grup, ditambah satu unit Detasemen antireroris 81.

Terlepas dari berbagai kontroversi, Idjon Djanbi pun bisa disebut sebagai “Bapak Kopassus”. Tapi kalau soal penggagas atau pencetus, (alm) Brigjen Ignatius Slamet Rijadi orangnya. Slamet Rijadi terilhami dari kehebatan dua kompi pasukan baret marun KST dan pasukan baret hijau DST (Depot Speciale Troepen).

Kedua pasukan elite Belanda itu ikut terlibat pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), medio 1950. Di awal-awal operasi penumpasan, pasukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) kala itu, sering kewalahan meladeni pasukan komando itu.

Dari situlah Slamet Rijadi menyampaikan pemikirannya dengan Kawilarang yang baru dikenalnya di Ambon, soal membentuk pasukan komando pula yang tak kalah andal dengan pasukan KST, DST dan milisi pro-RMS.

“Iya, Slamet Rijadi sama Kawilarang penggagasnya (cikal-bakal Kopassus),” terang aktivis reka ulang sejarah asal Bandung, Firman Hendriansyah kepada Okezone lewat pesan singkat.

“Waktu operasi (penumpasan) RMS, mereka kagum dan terkesima sama KST. Hanya dengan kesatuan kecil, tapi bisa mengalahkan pasukan APRIS,” tambahnya.

Namun Slamet Rijadi tak sempat melihat “kelahiran” Kesko TT, cikal-bakal Kopassus seperti yang disebutkan di atas. Slamet Rijadi baru mengenal Kawilarang di Ambon pada 17 Juli 1950.

Tapi tiga bulan kemudian, Slamet Rijadi sudah lebih dulu gugur, tepatnya 4 November di tahun yang sama. Pertemuan dua tokoh besar militer Indonesia ini memang begitu singkat. Tapi sungguh besar maknanya, meski ironis lantaran hingga saat ini, Slamet Rijadi belum diakui sebagai pahlawan nasional meski Kopassus sudah diakui dunia.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini