nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perundingan Mandek, Siliwangi Bendung Psywar KNIL 'Andjing NICA'

Randy Wirayudha, Okezone · Sabtu 11 April 2015 06:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 04 10 337 1132403 perundingan-mandek-siliwangi-bendung-psywar-knil-andjing-nica-aNwZnqHERe.jpg Ilustrasi Konflik TNI-KNIL (Foto: Randy Wirayudha/Okezone)

OKEZONE - Pasca Serangan Oemoem 1 Maret (SO 1 Maret) 1949, posisi Belanda mulai terusik dalam pergaulan internasional. Serangan dari TNI itu bak membuka mata dunia bahwa Republik Indonesia masih ada, bahwa Belanda mulai terlihat sebagai negara yang mengganggu kedaulatan negara lain.

Upaya demi upaya dari jalan diplomatik terus coba digencarkan para elite pemerintahan Indonesia. Sementara di berbagai medan tempur, pasukan TNI tak henti-hentinya berusaha menangkal setiap agresi Belanda, termasuk seperti yang terjadi di sebuah teritori Sumedang, Jawa Barat, 11 April 66 tahun silam.

Di tanggal yang sama, 11 April 1949, perundingan kembali pasca-Perjanjian Linggarjati dan Renville, terjadi lagi antara delegasi Belanda dan Indonesia, di bawah pengawasan “auspices”, panitia PBB untuk Indonesia.

Namun perindungan itu macet sampai seminggu kemudian. Seperti dikatakan George Turnan Kahin, misionaris PBB dari Amerika Serikat dikutip dari buku “Mengenang (Sutan) Syahrir”, pihak Belanda bersikeras tak ingin memulihkan (menyerahkan) Ibu Kota Yogyakarta.

Belanda mendesak pemerintah Indonesia untuk memerintahkan TNI menyerahkan senjata dan menghentikan perang gerilya. Jika tidak, Belanda enggan melanjutkan jalan diplomatik dan membawanya ke Konferensi Meja Bundar.

Sebelum akhirnya Belanda dan Indonesia melakukan gencatan senjata resmi lewat Perjanjian Roem-Roijen pada 14 April-7 Mei 1949, masih terjadi aksi gangguan, psywar dan bahkan bentrokan antara TNI dan pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger) – pasukan Hindia-Belanda.

Salah satunya dialami satuan-satuan dari Divisi Siliwangi yang belum lama sampai ke Jawa Barat, usai perintah kembali (long march) dari Yogyakarta, Desember 1948. 11 April 1949 di sekitar Cibubuan Conggeang, Sumedang, terjadi pertempuran sengit antara Batalyon II Tarumanegara dengan unsur-unsur KNIL Batalyon V “Andjing NICA”.

Sebutan “Andjing NICA” sendiri berasal dari julukan orang-orang Indonesia yang pro-Belanda saat itu. Sementara Batalyon V KNIL dikenal sebagai pasukan “Belanda Hitam” yang terdiri dari prajurit-prajurit asal wilayah timur yang paling brutal dan ganas.

Kembali pada pertempuran di Sumedang, sedianya pihak Belanda sempat menawarkan gencatan “gencatan lokal” untuk jangka waktu dari 19 Maret sampai 26 April. Jelas Siliwangi menolak mentah-mentah,

Tapi ada di antara beberapa satuan Siliwangi yang kena rayuan psywar Belanda dan mau menghentikan tembak-menembak untuk sementara di wilayah perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Hal itu justru membuat Belanda bisa lebih leluasa bergerak ke wilayah lain, yakni Sumedang.

Dalam rangkaian pertempuran itu, Komandan Batalyon Tarumanegara, Mayor Abdurrachman sempat tertawan Belanda, sebelum akhirnya dibunuh lantaran tak mau memberi tahu lokasi pos gerilya para petinggi Divisi Siliwangi lainnya.

Saat itu, sedianya Batalyon II Tarumanegara merupakan batalyon pengawal Panglima Siliwangi, Letkol Sadikin. Belanda bersikeras ingin menciduk satu per satu perwira Siliwangi, pasca-tertawannya Pangdam Letkol Daan Jahja, Desember 1948 di Purwokerto 1948.

Pasalnya, kembalinya Siliwangi ke Jabar sangat dikhawatirkan Belanda akan merebut Bandung kembali. Hari di mana Mayor Abdurrachman gugur, diabadikan menjadi Batalyon baru, yakni Yon 11 April di bawah komando Kapten Amir Mahmud.

Yon 11 ini juga yang akhirnya mampu melangsungkan revans terhadap sejumlah pos Belanda di Sumedang dan memporak-porandakan lini-lini pertahanan KNIL Yon V “Andjing NICA” di Sumedang.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini