Share

Dituduh Teroris, Proses Hukum Syaiful Dipertanyakan

Syamsul Anwar Khoemaeni, Okezone · Minggu 22 Maret 2015 00:33 WIB
https: img.okezone.com content 2015 03 21 337 1122281 dituduh-teroris-proses-hukum-syaiful-dipertanyakan-cB6KiwjalU.jpg Ilustrasi: Okezone

JAKARTA - Seorang warga Palu, Sulawesi Tengah, Syaiful Priyatna (30), diciduk kepolisian Resor Parigi lantaran dituduh terlibat teroris jaringan Sulteng pada September 2014. Paman Syaiful, Mabait, tak mengaku heran dengan polisi yang menangkap keponakannya itu.

Kepada Okezone, lelaki asal Palu itu lantas menceritakan kronologi penangkapan Syaiful. Dimulai sejak September lalu, saat ia diminta oleh saudaranya yang bernama Mokhtar menjemput empat pria berkebangsaan Turki di Makasar, Sulawesi Selatan.

"Keponakan saya itu tidak tau apa-apa, dia cuma disuruh jemput dan mengantar tamu dari Turki," jelas Masbait kepada Okezone.

Syaiful lantas berangkat, berbekal uang yang pas-pasan, ia lalu disuruh untuk mengantar keempat tamu itu ke Poso melewati Palu.

Namun, sesampainya di Parigi, ia dicegah oleh kepolisian dan langsung ditahan di kepolisian setempat bersama keempat tamunya tersebut. Tak hanya itu, belakangan keluarga baru mendapat informasi dari polisi seminggu kemudian usai Syaiful ditahan di Polda Sulawesi Tengah.

"Sampai Parigi dia ditangkap, dari surat yang kami dapat seminggu kemudian, ia dituduh terlibat terorisme," jelasnya.

Usai ditahan di Mapolda Sulawesi Tengah selama sebulan, Syaiful lalu dipindahkan ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Hingga hari ini, pihak keluarga sendiri belum juga mendapat kabar terkait kejelasan proses hukum Syaiful.

"Jadi dari Polda dipindah di Mako Brimob, tapi sampai sekarang tidak tau proses hukumnya," sambungnya.

Masbait mengaku, ia sempat mendengar kabar, bahwa sekira bulan Januari hingga Februari, keponakannya itu akan disidangkan. Ia dituduh terlibat terorisme lantaran pria yang menyuruhnya menjemput empat warga Turki itu termasuk daftar pencarian orang (DPO).

Padahal, saat dikroscek ke Polres Poso, Polres Pari, dan Polda Sulawesi Tengah, pihak keluarga tidak menemukan DPO atas nama Mukhtar yang tak lain adalah paman Syaiful.

"Katanya mau disidang, tapi juga tidak jelas, dibilang juga, ia dituduh terlibat gara-gara Mukhtar, paman dari ayahnya termasuk DPO, tapi di kantor polisi tidak ada gambar atau foto yang dimaksud," lanjutnya.

Selanjutnya, terdapat kejanggalan lain dalam proses penahanan Syaiful. Polisi kata Masbait, meminta keponakannya itu untuk mengakui bahwa ia terlibat teroris. Tak hanya itu, bahkan polisi baru mendapatkan penerjemah bahasa Turki sekira sebulan usai Syaiful berada di Depok.

"Waktu saya tengok dia pas Oktober sama Desember kemarin, dia bilang disuruh ngaku terlibat teroris, anehnya polisi juga baru dapat penerjemah sebulan kemudian," ungkapnya.

Masbait lalu pasrah, saat ini ia mengaku bingung mau kemana mengadukan persoalan yang menimpa keponakannya itu. "Saya tidak tau mau ke mana mesti laporan," pungkasnya.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini