nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kasus Suap Bappebti, KPK Periksa Corporate Secretary JFX

Feri Agus Setyawan, Jurnalis · Kamis 12 Maret 2015 13:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 03 12 337 1117510 kasus-suap-bappebti-kpk-periksa-corporate-secretary-jfx-uFrcm9YrpL.jpg

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bergerak cepat dalam menyidik kasus dugaan suap pejabat PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) kepada mantan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Syahrul Raja Sempurnajaya.

Kali ini, penyidik KPK akan memeriksa Corporate Secretary Jakarta Futures Exchange (JFX), Aulia Shina Primayog sebagai saksi untuk tersangka, pemegang saham PT BBJ, Hassan Widjaja.

”Iya, dia dipanggil sebagai saksi untuk tersangka HW (Hassan Widjaja),” ujar Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (12/3/2015).

Selain memeriksa Aulia, penyidik KPK juga akan memeriksa Wagino selaku sopir Direksi BBJ sebagai saksi untuk tersangka yang sama. "Iya, dia juga akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka HW," jelas Priharsa.

Seperti diketahui, pada 10 Maret 2015, KPK mengumumkan penetapan tersangka kepada tiga orang dari PT BBJ, yaitu Direktur Utama PT BBJ, Muhammad Bihar Sakti Wibowo dan dua orang pemegang saham PT BBJ, Hassan Widjaja, dan Sherman Rana Khrisna.

Dalam kasus ini, satu Direktur Utama dan dua pemegang saham PT BBJ itu ditengarai memberikan suap Rp7 miliar kepada Syahrul Raja Sampurna Jaya ketika menjabat Kepala Bappebti, menyangkut permintaan izin operasional PT Indokliring Internasional.

Atas perbuatannya, Muhammad Bihar Sakti Wibowo, Hassan Widjaja dan Sherman Rana Khrisna dijerat Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau b atau pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Penetapan status tersangka ini sendiri dilakukan KPK setelah mengembangkan penyidikan kasus dugaan korupsi berupa pemerasan, gratifikasi, suap dan dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang sebelumnya menjerat Syahrul Raja Sampurna Jaya. Dalam kasus itu, Syahrul sudah divonis 8 tahun penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

(hol)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini