LBH Jakarta Tuding Polri Sering Lakukan Kriminalisasi

Achmad Fardiansyah , Okezone · Jum'at 06 Maret 2015 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2015 03 06 337 1114825 lbh-jakarta-tuding-polri-sering-lakukan-kriminalisasi-qBwQbWN0mA.jpg LBH Jakarta Tuding Polri Sering Lakukan Kriminalisasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menilai, bentuk kriminalisasi yang dilakukan polisi terhadap tokoh yang mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah kerap terjadi dan dianggap sebagai hal yang biasa.

"Banyak beredar sekarang kriminalisasi pada para pimpinan dan tokoh yang mendukung KPK tapi bagi kami polisi telah melakukan rekayasa dan mereka sudah biasa melakukan hal tersebut," ujar Kepala Bidang Penanganan Kasus LBH Jakarta, Muhammad Isnur, saat ditemui di Jakarta, Jumat (6/3/2015).

Isnur mengatakan, LBH Jakarta memiliki sejumlah data yang menunjukkan aparat polisi memang sering melakukan aksi kriminalisasi dalam menangani sebuah perkara, dengan cara melakukan kebohongan, penipuan, dan penyesatan.

Ilustrasi Dukungan ke KPK

Setidaknya, ada 17 kasus yang menurut LBH sebagai bentuk kriminalisasi yang dilakukan polisi. Salah satu kasus yang menarik perhatian LBH adalah kriminalisasi terhadap sejumlah pengamen di Cipulir, Jakarta Selatan. Dalam kasus yang diusut oleh Polda Metro Jaya tersebut banyak terjadi kejanggalan.

"Salah satu modusnya adalah dengan menggunakan cairan untuk memanipulasi barang bukti di pakaian korban kriminalisasi," ujarnya.

Ditambahkannya, dalam melakukan kriminalisasi, polisi menggunakan cara-cara khusus untuk bisa membuat tersangka mengakui perbuatan yang sebenarnya tak mereka lakukan. Bahkan, dia mengatakan itu tidak hanya terjadi di satuan Polsek, tapi bisa mencapai Polda bahkan Bareskrim Polri.

"Di Polsek itu kriminalisasinya dengan melakukan pemukulan, tapi di Polda sudah menggunakan cairan-cairan," ujarnya.

Seperti diketahui, isu kriminalisasi yang dilakukan penyidik Polri terjadi pasca-penetapan tersangka yang dilakukan KPK terhadap Komisaris Jenderal Budi Gunawan. Kemudian, Bambang Widjojanto ditetapkan sebagai tersangka pada Jumat 23 Januari 2015 oleh Bareskrim Polri dalam kasus kesaksian palsu di bawah sumpah pengadilan.

Sementara Abraham Samad ditetapkan sebagai tersangka dalam dua kasus sekaligus, yaitu pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan wewenang sebagai Ketua KPK. Sedangkan kasus terbaru adalah dibukanya kembali penyelidikan kasus yang menyeret nama penyidik KPK Novel Baswedan oleh Bareskrim Polri.

 

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini