nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Krisis Negarawan

ant, Jurnalis · Minggu 15 Februari 2015 10:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 02 15 337 1106015 indonesia-krisis-negarawan-E4dOR5M4Pw.jpg Indonesia krisis negarawan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tokoh nasional yang memiliki kriteria negarawan di negeri ini sudah semakin langka. Namun, kondisi itu tidak hanya dialami Indonesia, namun juga berbagai negara di belahan dunia.

"Tokoh dengan kriteria negarawan kian langka, namun tidak hanya Indonesia yang sedang mengalami krisis negarawan, negara sekaliber Amerika Serikat juga mengalami krisis yang sama," kata pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Mudiyati Rahmatunnisa pada diskusi bertajuk Indonesia Krisis Negarawan? di Kampus Unpad, Bandung, Minggu (15/2/2015).

Ia menyebutkan dalam ilmu politik, konsep negarawan mencakup beberapa kriteria khusus antara lain memiliki pengalaman panjang di dunia politik, punya kemampuan di dunia pemerintahan dan punya respect, visioner dan seseorang yang tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri atau kelompoknya.

"Negara manapun mendambakan sosok-sosok negarawan, ia menjadi sosok panutan bukan untuk lingkungan terdekat tapi untuk orang banyak," katanya.

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI periode 2014-2019, Popong Otje Djundjunan yang juga sebagai pembicara pada diskusi itu menegaskan, seharusnya seseorang benar-benar sudah terlepas dari pengaruh 'warna' partainya ketika menjabat di parlemen sehingga benar-benar mampu mengedepankan kepentingan rakyat.

"Itulah yang disebut sebagai negarawan sejati. Mereka tidak memikirkan golongan, tetapi memikirkan rakyat serta mampu berpikir visioner," kata Popong.

Politisi senior Partai Golkar itu mengimbau generasi muda calon negarawan tidak alergi terhadap partai politik karena sesungguhnya bukan partai politiknya yang 'kotor', melainkan orang-orang di dalamnya. "Bila alergi dengan partai politik, bagaimana bisa menjadi negarawan?" tambahnya.

Perspektif yang sama disampaikan oleh mantan Presiden BEM Kema Unpad periode 2011-2012 Muhammad Sayyidi. Menurutnya, mahasiswa seharusnya juga memiliki wawasan politik.

"Masalah kontribusinya di mana, sebagai apa, itu tidak masalah, yang penting berwawasan politik agar potensi diri kita tidak disalahgunakan untuk merusak negara sendiri karena itulah yang dapat menimbulkan kecintaan kita terhadap tanah air," katanya.

Ditambahkannya, kelebihan mahasiswa adalah mereka memiliki gagasan-gagasan cemerlang dan itu harus mulai diaplikasikan sejak dini karena menjadi negarawan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini