Share

2014, Tahunnya Arogansi Politik

Feri Agus Setyawan, Okezone · Rabu 17 Desember 2014 15:28 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 17 337 1080529 2014-tahunnya-arogansi-politik-uvzmHCe6mL.jpg diskusi Soegeng Sarjadi Syndicate (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) menetapkan bahwa 2014 sebagai tahunnya arogansi politik. Kesimpulan ini diambil berdasarkan panasnya situasi politik baik saat penyelenggaraan Pemilihan Presiden 2014 maupun setelahnya.

"Kontestasi arogansi ini berawal saat Pilpres lalu dan masih berlangsung setelah penyelenggaraan pemilu," ujar peneliti SSS, Toto Sugiarto, di Wisma Kodel, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (17/12/2014).

Menurut Toto, keberlanjutan kontestasi dari arogansi politik itu telah masuk ke DPR (KMP-KIH) dan hingga ke internal partai (PPP-Golkar).

"Hal ini diakibatkan karena kampanye yang personal saat itu (Pilpers) dan perilaku politisi yang tidak melihat batasan hukum dan batasan etika," ujarnya.

Sementara itu, Chairman SSS, Sukardi Rinakit mengatakan, arogansi politik ini timbul akibat konglomerasi politik yang dilakukan para tokoh.

"Praktis politik di Indonesia itu kan konglomerasi politik, di mana pengusaha juga menjadi politisi bahkan jadi ketua umum partai. Dari situ arogansinya muncul," ujarnya.

Selain itu, menurut Sukardi arogansi politik ini muncul karena mendapat dukungan dari publik yang luas. "Dukungan publik yang luas dan kuat ini akab membuat orang menjadi arogan," tambahnya.

Dia juga memprediksi perkembangan situasi politik paska Pilpres 2014 yang disebut sebagai tahun arogansi politik. "Jadi pada 2015 nanti lebih pada introspeksi politik, lalu 2016 akan masuk kembali ke konsolidasi politik. Karena ribut-ribut atau arogansi ini enggak akan lama," tutupnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini