Kubu PDIP Salah Sejak Awal

Tri Kurniawan, Okezone · Rabu 08 Oktober 2014 09:23 WIB
https: img.okezone.com content 2014 10 08 337 1049527 e3lZ4jDGvc.jpg Elite Koalisi Indonesia Hebat (foto: Antara)

JAKARTA - Koalisi Indonesia Hebat kembali (KIH) takluk dari Koalisi Merah Putih. Tadi pagi, mayoritas anggota DPR dan DPD memilih paket calon pimpinan MPR yang diajukan Koalisi Merah Putih (KMP).

Pengamat komunikasi politik, Heri Budianto, mengatakan, kekalahan berturut-turut KIH sejak pengesahan RUU Pilkada, pemilihan pimpinan DPR, dan terakhir pemilihan pimpinan MPR, merupakan kesalahan strategi koalisi yang dimotori PDIP itu.

"Ini semua sudah jadi terlambat. Dari awal mestinya PDIP sebagai pimpinan KIH merangkul kekuatan politik," kata Heri Budianto kepada Okezone, Rabu (8/10/2014).

Seharusnya, lanjut dia, KIH merangkul lawan politik sejak putusan pemenang Pilpres 2014 dikeluarkan Mahkamah Konstitusi. Menurut dia, saat itu partai yang kalah sedang galau, secara psikologis politik ada keinginan untuk bergabung dengan kubu pemenang.

Sayangnya, hingga pelantikan anggota dewan tidak ada upaya kuat dari PDIP untuk merangkul lawan. "Pada akhirnya, partai tersebut berada pada kubu yang merasa ditinggalkan. Akhirnya merak unjuk kekuatan di parlemen. Politik merangkul yang kurang dar PDIP sejak awal," ungkapnya.

Dia menilai, KIH yang terdiri dari PDIP, Partai Nasdem, PKB, dan Partai Hanura, terjebak dalam janji politik Joko Widodo saat kampanye yakni ingin menciptakan koalisi ramping. Jika janji itu dilanggar, kubu Jokowi tentu akan dicap tak konsisten.

Namun, realitas politik saat ini berbeda. Kubu PDIP, menurut dia, bisa saja melanggar janji itu tanpa dicaci publik. Caranya, merangkul kubu yang kalah dengan niat untuk rekonsiliasi dan membangun bangsa ke depan.

"Publik akan menerima, PDIP akan mendapat citra positif dari masyarakat. Kubu yang kalah diajak membangun dan kerja sama dalam pemerintahan," terangnya.

Direktur PolcoMM Institute itu yakin sebenarnya PDIP sadar kekuatan di parlemen kurang. Namun, lagi-lagi terjebak dalam situasi politik dan memikirkan harga diri jika harus merangkul kubu yang kalah.

"Padahal dalam politik yang penting merangkul banyak kawan bukan mengajak bertempur lawan. Ketika diajak tarung terus, kekuatan politik di parlemen akan seperti itu," pungkasnya.

(trk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini