nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jenderal Soedirman dan Totalitas Perjuangan

Fiddy Anggriawan , Jurnalis · Selasa 07 Oktober 2014 03:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2014 10 07 337 1048944 rhXxYnZFTD.jpg Jenderal Soedirman dan Totalitas Perjuangan (Okezone)

SOEDIRMAN adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Pria kelahiran Purbalingga, 24 Januari 1916 tersebut menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama dan secara luas terus dihormati.  

 

Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, nama Soedirman di dunia militer dimulai saat menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang pada 1944. Sempat melakukan pemberontakan dan diungsikan ke Bogor, kemudian pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1945, berhasil melarikan diri dan menemui Presiden Soekarno.

 

Soedirman lalu ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan Divisi lokal Badan Keamanan Rakyat (BKR) Banyumas.

 

12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, setelah mengalahkan Oerip Soemohardjo, melalui dua tahap pemungutan suara buntu.

 

Soedirman, yang saat itu berusia 29 tahun, terkejut atas hasil pemilihan dan menawarkan diri untuk melepas posisi tersebut kepada Oerip. Namun para peserta rapat tidak mengizinkannya. Namun, Soedirman tetap menunjuk Oerip sebagai kepala staff. Sesuai dengan jabatan barunya, Soedirman dipromosikan menjadi Jenderal.

 

Sambil menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan Divisi V untuk menyerang pasukan Sekutu di Ambarawa, dan menunjuk Isdiman sebagai komando. Kota itu dianggap penting secara strategis karena memiliki barak militer dan fasilitas pelatihan yang peninggalan penjajahan.

 

Sayangnya, serangan ini dilumpuhkan oleh serangan udara dan tank-tank Sekutu, yang memaksa divisi untuk mundur, Isdiman sendiri tewas dalam pertempuran, setelah diberondong P-51 Mustang.

 

Melihat hal tersebut, Soedirman kemudian memimpin Divisi dalam serangan lain terhadap pasukan Sekutu. Tentara Indonesia hanya dipersenjatai bambu runcing dan katana sitaan dari Jepang. Sedangkan, tentara Inggris dipersenjatai dengan peralatan modern.

 

Sang jenderal, memimpin barisan terdepan sambil memegang sebuah katana. Sekutu, yang memiliki fasilitas serangan udara lumpuh, saat Soedirman menggunakan taktik gerilya untuk menyerang Lapangan Udara Kalibanteng di Semarang.

 

Sekutu berhasil dipukul mundur dan bersembunyi di Benteng Willem. Pada 12 Desember 1945, Soedirman memimpin pengepungan empat hari, yang menyebabkan pasukan Sekutu mundur ke Semarang.

 

Pertempuran Ambarawa membuat Soedirman lebih diperhatikan di tingkat nasional dan membungkam keraguan rakyat sebagai pemimpin TKR karena awal karirnya adalah guru sekolah.

 

Pada akhirnya, Soedirman dikukuhkan sebagai panglima besar TKR pada 18 Desember 1945. Posisinya sebagai kepala Divisi V digantikan oleh Kolonel Sutiro, dan mulai berfokus pada masalah-masalah strategis.

 

Singkat cerita, pada 25 Mei, Soedirman dikukuhkan kembali sebagai panglima besar setelah reorganisasi dan perluasan militer. Dalam upacara pengangkatannya, Soedirman bersumpah untuk melindungi republik "sampai titik darah penghabisan."

 

Menteri Pertahanan yang berhaluan kiri, Amir Sjarifuddin, memperoleh kekuasaan yang lebih besar setelah reorganisasi militer. Ia mulai mengumpulkan para tentara sosialis dan komunis di bawah kontrolnya, termasuk unit paramiliter (laskar) sayap kiri yang setia dan didanai oleh berbagai partai politik. Sjarifuddin memanfaatkan militer sebagai alat manuvering politik yang tidak disetujui oleh Soedirman dan Oerip.

 

Rumor pun beredar mengabarkan bahwa Soedirman sedang mempersiapkan sebuah kudeta. Namun, pada Juli 1948, Soedirman mengonfirmasi rumor ini melalui pidato di Radio Republik Indonesia (RRI) dengan menyatakan jika dirinya ditawari jabatan presiden, ia akan menolaknya. Di kemudian hari, ia menyatakan bahwa militer tidak memiliki tempat dalam politik, begitu juga sebaliknya.

 

Peristiwa-peristiwa tersebut membuat penyakit tuberkulosis (TBC)-nya kambuh, karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.

 

Kemudian, 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung ke Kraton Sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan.

 

Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

 

Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang.

 

Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Gugurnya Jenderal Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul dan Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

 

Saat gugur Jenderal Soedirman berpangkat Letnan Jenderal. Kemudian diangkat menjadi Jenderal (anumerta) pada 1950 dan Jenderal Besar (anumerta) pada 1997.

 

 

(teb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini