Share

Hidupkan Spirit Bung Hatta dengan Gerakan Bung Ayo Bung

Qur'anul Hidayat, Okezone · Kamis 21 Agustus 2014 04:03 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 20 337 1027571 0u0Hv8oDHC.jpg Soekarno-Hatta di Tugu Proklamasi (Dok Okezone)

JAKARTA - Sebagai salah satu founding fathers bangsa, jasa Muhammad Hatta sebagai wakil presiden Indonesia pertama tak perlu diragukan. Sumbangan pemikirannya, terutama di bidang ekonomi dan politik masih relevan sampai sekarang.

 

Khawatir gaung pemikiran dan nilai-nilai yang diperjuangkan Bung Hatta redup di kalangan generasi muda, sejumlah komunitas membuat sebuah gerakan Bung Hatta Movement atau Bung Ayo Bung yang nantinya melahirkan produk-produk berkenaan tokoh pencetus ekonomi kerakyatan lewat koperasi itu.

 

Salah satu produk dari komunitas ini adalah pembuatan film berjudul "Hatta" yang rencananya akan rilis pada Januari 2015. Produksi film ini dilakukan setelah mendalami kehidupan Bung Hatta, tidak hanya sebagai pemimpin bangsa, tapi juga sebagai manusia seutuhnya.

 

"Apa yang diperjuangkan Bung Hatta tidak akan pernah habis, beliau tidak mengejar kata merdeka tapi mengejar kata perdamaian," ucap Salman Aristo yang dicatut sebagai penulis skenario film ini, Kamis (21/8/2014).

 

Alasan itulah yang kemudian mendasari munculnya adagium "berbuat, tumbuh dan berdaulat" sebagai nilai kemerdekaan hakiki, "Berdaulat adalah kondisi yang dicapai, berdaulat bukan kondisi statis," lanjut Salman.

 

Salah satu produser film ini, Fathya Feurazia mengatakan bahwa setelah melakukan kajian selama satu tahun, pihaknya menemukan banyak sekali alur pemikiran Bung Hatta yang sangat perlu disampaikan ke generasi muda.

 

"Komunitas-komunitas ini bergerak dalam satu ruh spirit Bung Hatta, awalnya kurang informasi, tapi setelah research, memang dahsyat sekali (pemikirannya), high diplomacy dan banyak konsep yang bisa diberitahu ke generasi muda," bebernya.

 

Tantangan pembuatan film ini, kata dia, salah satunya adalah mencari potongan-potongan kehidupan Bung Hatta dari berbagai literatur dan sumber. Karya itu nantinya diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat.

 

"Tantangan kami dalam film adalah untuk bisa melihat Bung Hatta dari tahun 1928 tentang UKMB, bukan hanya merdeka tapi berdaulat," cetusnya.

 

Film yang berada di bawah Dante Sinema ini bekerja sama dengan beberapa komunitas seperti HIPMI Peduli, Gerakan Tangan Di Atas (TDA), Komunitas Do Art, Akademi Berbagi, Nebengers, Kelompok Tani Organik, Indonesia Unite, dan Komunitas Dreamdelion.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini