nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Mbah Sahal Tolak Upaya Penyesatan Syiah

Nurul Arifin, Jurnalis · Jum'at 24 Januari 2014 16:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 01 24 337 931274 cN8oOkGUsh.jpg

SURABAYA- KH Sahal Mahfudz selain dikenal ahli dalam bidang ilmu fiqih juga dikenal sebagai tokoh Islam yang ramah dan toleran. Berpulangnya Kiai kharismatik asal Pati, Jawa Tengah, itu tentu menyisakan duka yang mendalam, khususnya bagi Nahdliyyin.

Terlebih lagi, Kiai Sahal, begitu dia disapa, adalah Ketua Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Koordinator Jaringan GusDurian (kelompok pencinta Gus Dur) Aan Ashori, mengatakan, Kiai Sahal selain memiliki kemampuan ilmu fiqih yang mendalam juga sosok yang mampu menjaga toleransi di Indonesia.

"Beliau sangat toleran dan tetap menjaga keberagaman di Indonesia. Meski secara disiplin ilmu beliau tidak diragukan. NU sangat kehilangan. Bahkan bangsa ini butuh sosok seperti beliau," kata Aan saat berbincang-bincang dengan Okezone, Jumat (24/1/2014).

Kata Aan, sikap Kiai Sahal yang toleran ini sangat terlihat ketika dinamika penyesatan Syiah bergulir beberapa waktu lalu. Ada cerita menarik dalam perjalanan pluralisme di Indonesia terkait dengan Kiai Sahal.

Pada 2012, pasca meletusnya kasus Syiah Sampang, puluhan kiai Madura dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mendatangi Kiai Sahal di kediamannya.

Mereka melakukan lobi kepada Kiai Sahal agar menyetujui aspirasi mereka untuk menyesatkan aliran Syiah.

Menurut Aan, para kiai berbuat sedemikian rupa agar Kiai Sahal menyetujui untuk membuat sesat aliran Syiah. "Kiai Sahal hanya mendengar saja. Sampai pada akhirnya beliau berkomentar pendek. Kira-kira seperti ini " Jangan libatkan saya (dalam urusan penyesatan Syiah). Setelah berkomentar seperti itu, Kiai Sahal masuk ke dalam rumah dan tidak kembali ke forum tersebut," kata Aan sembari menirukan pernyataan Kiai Sahal.

Setelah mendapatkan pernyataan, mereka akhirnya pulang dengan kecewa karena gagal melobi Kiai Sahal.

 

Meninggalnya Kiai Sahal, dalam situasi Darurat Intoleransi di Indonesia saat ini, sangat kehilangan. Namun demikian, ia menganggap, Kiai Sahal sama dengan Gus Duru, tidak meninggal melainkan hanya pulang. "Tentunya warisan menjaga keberagaman, toleransi dan persatuan akan terjaga," tukasnya.

(ugo)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini