nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Poligami Hanya Pembodohan terhadap Perempuan

Muhammad Saifullah , Jurnalis · Rabu 08 Januari 2014 00:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 01 07 337 922792 ufqpSwRaWI.jpg

JAKARTA - Aktivis perempuan penerima Madeline K. Albright Award, Gefarina Djohan, bersikukuh mendorong perempuan menentang poligami. Menurutnya, selama ini perempuan menerima dipoligami begitu saja karena pemahaman dan ajaran yang salah tentang aturan perkawinan.

 

“Perempuan harusnya punya sikap, selama ini mereka takut menentang poligami karena menganggap jika menentang poligami berarti tidak tunduk pada syariat. Itu pembodohan terhadap perempuan,” ujarnya, Selasa (7/01/2014).

 

Gefarina menggarisbawahi pentingnya mengutamakan sikap adil dalam perkawinan. Apalagi jika yang melakukan poligami adalah seorang pemimpin atau seorang wakil rakyat.

 

“Muhammad Syaukani dalam tafsir Fathul Qadir tegas-tegas menyebutkan persyaratan mutlak poligami adalah keadilan yang menyangkut dengan kesejahteraan lahir dan bathin. Ibnu Taymiyah, seorang ilmuwan besar Islam menyatakan keadilan itu mendekati ketaqwaan,” tegasWakil Ketua PP Muslimat Nahdlatul Ulama periode 2005-2011 tersebut.

 

Dalam Islam, jelas Gefarina, ada aturan-aturan ketat jika hendak melakukan poligami. Aturan-aturan tersebut seolah sengaja tidak dipopulerkan, di sisi lain, tokoh-tokoh pendukung poligami hanya memunculkan bahwa Islam mengizinkan poligami dengan dukungan argumen lebih baik poligami daripada berzina.

 

Nabi Adam isterinya satu, Nabi Ibrahim beristeri dua atas perintah Allah karena istri pertamanya mandul, Nabi Isa tidak beristeri, Nabi Muhammad menikah lebih dari satu atas perintah Allah menyangkut dengan pemeliharaan anak yatim dan kehormatan para perempuan, yang dinikahi gadis belia hanya Siti Aisyah.

 

Sementara itu, pada umumnya laki-laki yang melakukan poligami hanya mengambil perempuan yang lebih belia dan lebih cantik dari istri pertama. Padahal, Rasul telah pula memberikan tauladan dan aturan soal ini.

 

“Menurut Rasulullah, dalam hadits mutafaq alaihi, jika seorang laki-laki tertarik kepada perempuan lain harus cepat-cepat kembali ke isterinya, dan menahan nafsunya dengan berpuasa,” ulas Gefarina.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini