Share

DPR Kritik Cara Densus 88 Gerebek Teroris di Ciputat

Mustholih, Okezone · Kamis 02 Januari 2014 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2014 01 02 337 920418 AuXj9pNT9G.jpg anggota Densus 88 Antiteror Polri (Foto: Okezone)

JAKARTA - Anggota Komisi I DPR dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, mengkritik cara pasukan Detasemen Khusus (Densus) Antiteror 88 yang menggerebek sejumlah orang yang diduga teroris di Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel).

Menurut Susaningtyas, menangani aksi terorisme tidak melulu harus menggunakan pendekatan represif atau kekerasan seperti yang terjadi menjelang perayaan malam tahun baru 2014.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

"Saya bertanya dalam hati apa pemerintah berniat sungguh-sungguh habiskan terorisme? Itu tidak bisa melulu represif, tapi harus ada pendekatan persuasif dan tidak emosional. Ada upaya dan langkah terpadu tidak bisa parsial hanya melihat melihat kasus per kasus," kata dia saat berbincang dengan Okezone, di Jakarta, Rabu (1/1/2014) malam.

Menurut Susaningtyas, penggerebekan itu harus berlandaskan hasil analisisa dan penyelidikan sistem peradilan pidana. Tujuannya, kata dia, agar tidak terjadi salah tangkap atau salah objek.

"Bila kesalahan (terjadi) dalam penangkapan, akan jadi trauma di tengah masyarakat. Jadi, penangkapan atau penggerebekan harus berdasarkan data akurat. Kita jangan terjebak dengan mainstream terorisme," ujar perempuan yang akrab disapa Nuning tersebut.

Seperti diketahui, menjelang tahun 2014, Densus 88 Antiteror dari Markas Besar Kepolisian RI melakukan penggerebekan di rumah kontrakan di Jalan KH Dewantoro Gang H Hasan RT 04/07 Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan. Sempat terjadi aksi baku tembak antara Densus 88 dengan orang-orang yang diduga teroris tersebut.

Penggerebekan itu berakhir dengan tewasnya enam orang dari pihak diduga teroris. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, menyatakan ke enam orang tewas ditembak itu merupakan kelompok Abu Roban.

Susaningyas berpendapat memang dilihat dari cara kerja mereka memang berasal dari jaringan lama. "Bila dilihat cara kerjanya itu jaringan lama. Tapi bisa saja itu gerakan dari kelompok sel terputus yang tak punya bentukan hirarki," ungkapnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini