nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Migran Care: Malaysia Ladang Pembantaian Bagi TKI Indonesia !

Fahmi Firdaus , Jurnalis · Jum'at 14 September 2012 06:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2012 09 14 337 689642 94atnsiIKT.jpg Foto: Orange

JAKARTA - Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan penembakan lima TKI yang diduga melakukan dugaan kriminalitas oleh Polisi Diraja Malaysia pada 7 September 2012 lalu adalah tindakan yang brutal. Kasus ini juga menambah daftar panjang kebrutalan Polisi Diraja Malaysia yang berlaku sewenang-wenang terhadap TKI.  

 

“Hingga saat ini belum satupun kasus kebrutalan ini diproses secara hukum. Sebelumnya, kasus serupa terjadi pada tiga TKI asal NTB yaitu Herman, Abdul Kadir Jaelani dan Mad Noo yang ditembak pada 25 Maret 2012 serta penembakan terhadap tiga TKI asal Jawa Timur Sumardiono, Marsudi dan Hasbullah pada tanggal 19 Juni 2012,” kata Anis dalam keterangan tertulisnya yang diterima okezone, Rabu (13/9/2012).

 

Peristiwa ini menurutnya semakin menegaskan bahwa Malaysia benar-benar merupakan ladang pembantaian bagi buruh migran Indonesia. Setidaknya ini merupakan peristiwa ketiga sepanjang tahun 2012. Alasan klasik penembakan adalah dugaan tindakan criminal. Ini selalu menjadi justifikasi bagi Polisi Malaysia yang membunuhi buruh migran Indonesia yang bekerja disana, padahal hal tersebut hanyalah stigmatisasi dan tidak pernah ada bukti yang kongkrit dan terungkap di peradilan.

 

“Ini menegaskan bahwa Malaysia benar-benar merupakan ladang pembantaian bagi buruh migran Indonesia. Ironinya, sikap pemerintah Indonesia sangat lembek bahkan turut serta melegitimasi praktek kriminalisasi yang berujung pada penghilangan nyawa TKI. Bahkan dalam kasus ini, pemerintah Indonesia cenderung membenarkan brutalitas polisi Malaysia,” tandasnya.

 

Anis mencontohkan, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR-RI, secara terang-terangan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat menyebutkan bahwa kelima TKI adalah ilegal dan bekerja dengan visa turis. Sementara KBRI Kuala Lumpur mengamini informasi dari polisi Malaysia yang menyatakan bahwa kelima TKI adalah kriminal tanpa pernah mengupayakan sebuah penyelidikan yang independen.

 

“Inilah yang menyebabkan diplomasi Indonesia terhadap Malaysia tidak memiliki kewibawaan,” imbuhnya.

 

Menyikapi terulangnya kembali penembakan polisi Malaysia terhadap kelima TKI tersebut, Migrant CARE mengecam keras dan menyatakan sikap:

 

1. Pemerintah Malaysia harus segera mengusut tuntas secara hukum terhadap polisi yang melakukan penembakan kepada lima TKI dan terhadap kasus-kasus sebelumnya.

 

2. Pemerintah Indonesia harus segera melayangkan nota protes diplomatik atas prosedur penembakan polisi Malaysia yang mengakibatkan hilangnya nyawa 5 TKI tanpa melalui proses hukum sebelumnya atau extra judiciary killing

 

3. Pemerintah Indonesia harus segera mengurangi hubungan diplomatik dengan Malaysia dengan menunda penempatan Duta Besar RI untuk Malaysia

 

4. Pemerintah Indonesia harus segera mengevaluasi kembali platform kerjasama bilateral ketenagakerjaan dengan Malaysia, termasuk moratorium pengiriman PRT migran yang baru saja dicabut bulan Juli yang lalu.

 

5. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini KBRI Kuala Lumpur harus pro aktif melakukan investigasi dan mengawal secara intensif proses hukum terhadap penembakan kelima TKI dan kasus-kasus sebelumnya.

(hol)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini