JK Bocorkan Kisah Sukses Perdamaian Aceh di Myanmar

Lamtiur Kristin Natalia Malau, Okezone · Senin 10 September 2012 17:58 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 10 337 687803 q3WgikzK2R.jpg Foto: Yadi Jentak/Staf Pribadi JK

NAY PYI TAW - Delegasi Indonesia dan Delegasi Filipina berbagi pengalaman menangani konflik sosial melalui forum konsultasi di Nay Phy Taw, Ibu Kota baru negara Myanmar, Senin (10/9/2012).

 

Pertemuan yang berlangsung dua hari ini difasilitasi Center for Humanitarian Dialogue (HDC).

 

Pertemuan di kota yang berjarak sekira 400 kilometer sebelah utara Ibu Kota lama, Yangon, berlangsung tertutup di sebuah tempat di Naypyitaw. Namun, pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan suasana lebih santai, terbuka, dan bersifat informal di sebuah rumah makan.

 

Delegasi Indonesia yang terdiri atas Jusuf Kalla, Hamid Awaluddin, dan Jenderal TNI (Purn) Endiartono Sutarto, memaparkan pengalamannya dalam mengatasi konflik di Ambon dan Poso antara tahun 1998-2002. Mereka juga memaparkan pengalaman yang paling monumental ketika mendamaikan tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI melalui perjanjian Helsinki pada 2005.

 

Seperti tertulis dalam keterangan pers yang diterima Okezone, delegasi Filipina yang dipimpin Prof Miriam Coronel-Ferrer (dari Kantor Penasehat Kepresidenan Filipina) memaparkan bagaiamana cara menangani konflik antara gerilyawan muslim Moro di Filipina Selatan dengan pemerintah Filipina yang hingga kini proses perundingan damainya belum tuntas. Hadir antara lain Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Filipina Jenderal Alexander Yano dan pejabat dari Program Pembangunan PBB (United Development Programme) Alma Evangelista.

 

Direktur HDC wilayah Asia Michael Vatikiotis mengungkapkan, pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menggali perspektif baru dan terus menggelorakan pentingnya penggalangan upaya resolusi konflik. Konflik etnik dan agama yang belakangan merebak perlu diredam dan dicarikan jalan keluarnya guna mewujudkan perdamaian dunia serta memajukan peradaban masyarakat di berbagai belahan dunia.

 

Di Myanmar tercatat ada 11 etnik lokal yang selama ini berkonflik dengan Pemerintah, hingga rezim Pemerintahan Thien Shien. Hal ini yang membuat Presiden Thien Shien memulai pembicaraan dengan sejumlah pimpinan etnik bagaimana menyelesaikan konflik vertikal ini. Melalui Komite Perdamaian Kantor Presiden Myanmar bersama Center for Humanitarian Dialog, dilakukan sejumlah pertemuan untuk membahas solusi penyelesaian konflik etnik dengan Pemerintah, serta konflik antar etnik. Salah satu yang aktual adalah konflik etnik Rohingya dan Rakhine di Myanmar.

 

"Untuk Asia Tenggara, contoh pengalaman yang paling relevan untuk dibagi adalah resolusi konflik yang sukses dilakukan di Indonesia dan Filipina," kata Vatikiotis.

Ia mengungkapkan, pertemuan itu sudah di gagas sejak awal tahun 2012. Awalnya pertemuan ini dilaksanakan bulan April lalu, namun baru kali ini sempat terselenggara karena kesibukan berbagai pihak yang terkait.

(lam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini