JK Berharap Pemerintah Myanmar Mulai Proses Rehabilitasi

Isnaini, Okezone · Minggu 12 Agustus 2012 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2012 08 12 337 676574 MgcjT5ZtEP.jpg Jusuf Kalla (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla berharap pemerintah Myanmar segera memulai proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca konflik antar masyarakat etnis Rohingya dan Rakhine di Myanmar.

"Program tanggap darurat tidak boleh lebih dari enam bulan, sebab akan menimbulkan persoalan psikologis dan kesehatan," ujar Kalla dalam pesan elektroniknya kepada Okezone, Sabtu (11/8/12).

PMI bersama dengan Organisasi Kerjasama Negara-Negara  Islam (OKI) dan Bulan Sabit Merah Qatar (QRCS) menandatangani kerjasama dengan Palang Merah Myanmar untuk menyuplai  bantuan agar bisa diterima masyarakat setempat. Kalla juga menegaskan, hal terpenting yang harus dilakukan adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua belah pihak. "Sehingga ke depan tidak perlu ada konflik semacam ini," ujarnya.

Pada kunjungan delegasi ini JK, begitu sapaan akrab Jusuf Kalla, bertemu dengan  Asisten Sekjen OKI Atta El- Mannan, Presiden Bulan Sabit Merah Qatar Mohamed  Gahnim Al Mahdeed dengan Menteri Urusan Perbatasan Myanmar Thein Htay. mereka mendatangi barak pengungsi Thet Kay Pyin di Sittwe, Rakhine, Myanmar. Disini terungkap ribuan masyarakat Rohingya dan Rakhine hidup dalam kondisi mengenaskan pasca konflik etnis tersebut. 

Mereka hidup di barak pengungsi berdesak-desakan dengan fasilitas sanitasi dan kesehatan yang sangat buruk. Yang membuat kondisi pengungsi semakin parah, kawasan tersebut tengah mengalami curah hujan yang cukup tinggi. Sehingga hampir dipastikan para pengungsi mudah terkena penyakit, terutama yang banyak diderita para pengungsi saat ini adalah penyakit diare, ISPA dan Kolera.

Menteri Thein Htay mengatakan pihaknya cukup kewalahan menghadapi dampak pasca kerusuhan sosial ini. Sementara, kemampuan finansial pemerintah Myanmar dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi pasca konflik sangat terbatas.  "Karena itu kita sangat terbuka bantuan lembaga internasional untuk menyelesaikan masalah ini," ujarnya.

Thein Htay menyebutkan, pihaknya juga terus berusaha mendamaikan pihak-pihak yang sedang berkonflik di kawasan itu. Secara rutin, pemerintah mengajak tokoh agama kedua belah pihak untuk mendinginkan suasana. "Supaya konflik yang berawal dari tindakan kriminal ini tidak melebar ke persoalan agama," tegasnya

(ydh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini