nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Din: Ulama Berpolitik, Dakwah Tetap yang Utama

Tri Kurniawan, Jurnalis · Kamis 07 Juli 2011 00:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2011 07 06 337 476841 MR8bqkSuB8.jpg

JAKARTA- Almarhum KH Zainuddin MZ, selain dikenal sebagai penceramah, beliau juga sempat mencicipi panasnya panggung politik di tanah air. Zainuddin sempat tercatat sebagai Ketua Umum Partai Bintang Reformasi.

Namun tidak sedikit yang menyesalkan ketika Zainuddin memutuskan untuk hijrah ke partai politik. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin mengaku salah satu sahabat almarhum yang menyesalkan keputusan Zainuddin berpolitik.

"Saya ingin katakan dalam kesempatan ini, saya termasuk sahabat beliau yang kurang setuju ketika beliau hijrah ke politik," ujarnya saat ditemui wartawan di kediaman Zainuddin di Jalan Gandaria I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (6/7/2011) malam.

Din mengatakan bukan tidak boleh seorang ulama berpolitik tapi, saat itu yang diperlukan masyarakat luas adalah ceramah yang sering didengungkan Zainuddin. Bagi ulama yang saat ini masih berpolitik, Din juga berpesan alangkah baiknya agar tetap konsentrasi di dakwah.

"Maka ketika beliau terakhir semacam berhijrah kembali ke khittah, kembali ke habitat dakwah, dan tampil di televisi, saya termasuk yang bersyukur dan gembira. Sayang tidak lama setelah itu, beliau dipanggil Allah," cetusnya.

Seperti diberitakan, KH Zainuddin MZ tutup usia 60 tahun. Lahir di Jakarta sebagai anak tunggal, buah cinta pasangan Turmudzi dan Zainabun dari keluarga Betawi asli. Masyarakat mulai mengenal ceramah-ceramahnya melalui kaset yang didengar berbagai lapisan masyarakat. Kebiasaannya membanyol dan mendongeng sejak kecil terus berkembang hingga mengantarkannya menjadi Dai Sejuta Umat.

Sejak kecil Zainudin sering berpidato saat masuk Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta.

Zainuddin sempat berkecimpung di dunia politik pada 1977. Dia pernah bergabung di PPP. Kemudian juga pernah menjadi Ketua Umum Partai Bintang Reformasi, kemudian di Gerindra. Alumni IAIN Sarif Hidayatullah itu menyandang gelar doktor honoris causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini