Bagaimana Prospek Perdamaian di Libya?

K. Yudha Wirakusuma, Okezone · Selasa 29 Maret 2011 14:58 WIB
https: img.okezone.com content 2011 03 29 337 440097 uL8VHCBXhH.jpg Pasukan oposisi Libya (Foto: Getty Images)

JAKARTA- Meski secara resmi menyerukan agar konflik di Libya segera diakhiri, Pemerintah belum bisa memprediksi apakah gencatan senjata dan perjanjian perdamaian bisa terlaksana di negara pimpinan Moammar Khadafi itu.

 

Persoalannya tidak sekadar keinginan sebagian rakyat Libya untuk menjungkalkan Khadafi, tapi juga berkelindan dengan pengelolaan ladang minyak yang menyangkut terutama kepentingan negara-negara Eropa.

 

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan sebanyak dua per tiga dari cadangan minyak di Libya masih tersimpan dalam perut bumi. Sebagian besar dari produksi yang ada sekarang diekspor ke Eropa. Namun, kebanyakan operator yang mengeksplorasi bukan dari Eropa melainkan China.

 

“Dan beberapa negara Eropa sendiri itu melihat bahwa daerah-daerah minyak di Libya yang aktif kan perusahaan-perusahaan bukan dari perusahaan-perusahaan dari Eropa kayak Total, British Petroleum, Exxon mobil, (tetapi) perusahaan-perusahaan China,"ujar Purnomo di kantor Presiden, Jakarta, Selasa, (29/3/2011).

Namun, saat ditanya apakah perang sekarang ini memiliki agenda untuk mengurangi dominasi China di Libya, Purnomo mengatakan. “Kalau itu konklusi kalian, bukan saya, saya hanya menyampaikan fakta dan data.”

Disinggung tentang peran Amerika Serikat, Purnomo mengatakan, pada dasarnya yang lebih berkepentingan dan berperan dalam operasi di Libya adalah Eropa. Sebab, Amerika masih memiliki beban di Afghanistan, Irak dan Korea Selatan.

 

“Ini kan masalahnya sedikit complicated karena ada kepentingan-kepentingan yang berbeda beda juga dalam koalisi. Dari pihak Amerika sendiri itu pasukannya di luar sudah banyak. Di Afghanistan dia punya 90 ribu, kemudian di Irak dia punya 30 ribu, di Korea Selatan dia punya 20 ribu,” katanya.

 

“Jadi kalau dari kacamata pertahanan ,tampaknya yang akan lead dalam koalisi itu bukan dari Amerika karena Amerika sendiri kan juga sekarang Obama harus berbicara dengan DPR-nya mereka. Jadi most likely yang akan aktif adalah dari Eropa,” demikian Purnomo menambahkan. (abe)

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini