Share

Nilai Sejarah Perangko Kuno Tak Ternilai Uang

K. Yudha Wirakusuma, Okezone · Selasa 12 Oktober 2010 16:25 WIB
https: img.okezone.com content 2010 10 12 337 381746 ZLGHmuHnq9.jpg Ilustrasi (Ist)

JAKARTA - Siang itu terasa terik menyengat. Hawa panas Ibu Kota yang tengah dilanda cuaca ekstrem,  tak menyurutkan langkah saya menyambangi rumah seorang pengoleksi perangko atau filatelis di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Meski harus melewati gang sempit beraroma bau tak sedap, rasa tak sabar bercampur penasaran yang bergelayut. Bermodalkan semangat, saya pun akhirnya sampai ke alamat yang dituju setalah banyak bertanya pada warga sekitar.

Sambil terbatuk-batuk, seorang pria tua menyambut dan menyalami saya. "Silakan masuk mas, anggap saja rumah sendiri," ucapnya dengan penuh keramahan. Yah, itulah Nursail, seorang filatelis.

Walau kondisi rumah yang sederhana, dia berusaha menyambut tamunya sebaik mungkin. Dan tak berselang lama, sebotol minuman bersoda dingin disodorkan kepada saya. Lumayan, sedikit meredakan dahaga akibat terbakar udara yang panas.

Sejurus kemudian, Nursail menceritakan alasan dirinya menyenangi perangko. Sekitar tahun 1970, awal dia mengenal dunia perangko. Boleh dibilang menyelami pernak-pernik benda pos itu hanyalah kebetulan, tidak terpikir sedikit pun akan berurusan hal yang berbau unik dan langka.

Menurut Nursail, menjadi filatelis berawal dari titipan sebuah album perangko dari seorang

temannya di Bandung. Ketika itu, seorang temannya yang filatelis itu terserang penyakit yang cukup parah. Karena sakitnya itulah, sehingga dia tak mampu merawat koleksi perangko yang berjumlah cukup banyak. "Waktu itu saya kaget, saya nggak tahu ini (perangko) buat apa," ujarnya.

Secara perlahan lembaran demi lembaran dalam album tersebut dibuka dan diamati dengan seksama. Tak disangka, ternyata tersimpan sejumlah perangko keluaran luar negeri. "Waktu itu ada dari Australia, Pak Soekarno juga ada tapi belum satu seri, kurang satu," imbuhnya.

Koleksi perangko tersebut, kemudian dirawatnya dengan baik meski belum tahu caranya. Hanya dengan kain lap dan menaruhnya di tempat yang tidak lembab. "Bulan berganti bulan, semakin lama nampak bagus juga perangko ini. Dari gambarnya juga bentuknya," paparnya dengan logat Sumatera yang kental.

Lebih lanjut Nursail memaparkan, perjalanan hidupnya yang juga berdagang di Pasar Senen, yakni berjualan cincin. Saat di pasar bertemu teman satu kampung yang juga punya koleksi perangko, edisi Sea Games. "Terus dia nggak punya uang mau jual ke saya. Saya beli saja, ya uangnya buat makan dia saja," ucapnya.

Mulai dari situ dirinya mulai tertarik dengan perangko. "Kalau saya pulang dagang, saya pandangi perangko. Rasanya capek, pegel badan hilang. Bukan hobi ya, tapi senang saja," ujar Nursail. Lantaran umur yang kian tua, Nursail yang lahir tahun 1940 akhirnya memberikan perangko miliknya ke seorang teman. "Saya juga sakit-sakitan nggak sanggup lagi ngurus perangko. Jadi perangko saya kasih ke teman saya," tuturnya.

"Mata saya sudah katarak, kemarin dioperasi dan ada sakit hernia. Istri saya juga kakinya pincang, jadi saya sama istri nggak bisa ngurus itu (perangko). Cuma obat doang yang banyak di sini," ucapnya sambil tertawa lebar.

Nursail berpesan kepada temannya supaya koleksi perangko tersebut tidak dijual. Alasannya, nilai sejarah yang terdapat dalam perangko kuno sangat berharga dan terbilang langka. "Inikan barang antik. Kalau dijual nggak bisa dibayar dengan uang," tukasnya.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini