Share

Filateli Tak Terpengaruh Tren Surat Pos

K. Yudha Wirakusuma, Okezone · Selasa 12 Oktober 2010 13:18 WIB
https: img.okezone.com content 2010 10 12 337 381648 VIlNGX95VM.jpg Koleksi Perangko (Ist)

JAKARTA - Pukul 10.00 WIB, saat itu saya masuk ke sebuah gedung tua peninggalan Belanda di kawasan Jakarta Pusat. Ketika masuk ke gedung itu, seorang pria setengah baya pun menyambut di pintu depan.

Di depan gedung tersebut terdapat dua buah etalase dengan ratusan, bahkan ribuan koleksi perangko yang terpampang. Tampak pula segelintir pengunjung ada di sana. Setelah beberapa lama berkeliling. Saya akhirnya bertemu dengan Rijanto, salah satu pengurus Filateli Indonesia. Dalam perbincangan singkat, Rijanto menceritakan banyak hal tentang dunia filateli di Indonesia dan perkembangannya.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Menurut Rijanto, penggemar perangko bisa dikatakan tidak bertambah. Ini seiring dengan kebutuhan ekomoni yang kian meningkat.

“Mungkin banyak pendapat yang mengatakan bahwa surat dikaitkan dengan HP. Mungkin ini hal yang sangat prinsipil, karena pengumpul perangko kebanyakan tak terpengaruh dengan surat-menyurat. Dan memang ada juga pengirim surat itu juga pencinta perangko. Kalau membeli perangko tidak untuk dikirim, tapi dibeli dan disimpan,” ucapnya saat ditemui okezone di kantornya di bilangan Jakarta Pusat, belum lama ini.

Lebih lanjut pria yang mengaku telah mengumpulkan perangko sejak duduk di Sekolah Dasar ini mengaku bahwa anggota filateli di Indonesia pernah mencapai angka 16.000 orang. “Banyak yang suka tapi nggak terdaftar. Kalau yang terdaftar, 16 ribu orang,” ungkapnya.

Dia menambahkan, anak sekarang suka bilang “hari gini masih ngirim surat”. Padahal, lanjutnya, mereka tidak mengerti di balik mengirim surat banyak kaidahnya, seperti sosiologis yang bagus. Di sana ada tingkat kesopanan, ada kesenangan bisa dibaca berulang-ulang, kemudian sampulnya bisa jadi kenangan.

“Sebenarnya perangko masih relevan. Dulu banyak yang bilang orang Indonesia tidak gemar membaca, apalagi menulis. Kalau di luar negeri nunggu bus aja menulis surat, ‘saya ada di halte’,” katanya.

Rijanto pun menyoroti soal budaya dan sopan santun berkomunikasi dengan media surat dan pesan singkat atau SMS melalui telepon selular (ponsel). “Anak sekarang bahasanya kan kacau. Misalnya, ditanya temennya di mana, dia jawab otw (on the way, di jalan). Nggak sopan kalau kita bicara kultural. Kalau di dalam surat kan diajarkan bagaimana di awal kalimat dengan hormat, jadi secara psikologis mendidik mereka. Ada tata bahasa, anak sekarang bahasa Indonesianya jeblok,” tandas dia.

Surat pos memang identik dengan perangko. Berbicara soal prangko, hingga kini ternyata masih banyak penyuka perangko atau istilah kerennya, filatelis di Indonesia. Di Asia sendiri, lanjutnya, pengumpul perangko tak begitu lesu. Di Bangkok itu ada perlombaan terkait koleksi perangko. “Ada yang dapat medali emas, saya tanya berapa Anda habiskan uang? Itu kalau dirupiahkan sekira Rp20 miliar,” tandasnya.

Wuihh, ternyata di balik “kuno”-nya surat pos ada sesuatu yang nilainya jika diuangkan sangat fantastis.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini