Share

Arief Rahman: Surat-Menyurat Jadi Barang Tabu

K. Yudha Wirakusuma, Okezone · Selasa 12 Oktober 2010 12:50 WIB
https: img.okezone.com content 2010 10 12 337 381631 b0GEIrJiyN.jpg Ilustrasi (Ist)

JAKARTA - Istilah surat-menyurat, bagi sebagian orang dapat dikatakan sebagai hal konservatif. Selain surat membutuhkan waktu yang relatif tak lama, surat juga semakin jauh di mata masyarakat.

Dalam membuat surat, ada proses. Komunikasi yang terjalin, antara si pengirim dengan si penerima, benang merah tersebut yang sepertinya tak boleh digeser walau era teknologi telah berkembang pesat.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

"Inti surat menyurat yaitu komunikasi, bahwa persoalan surat menyurat telah menjadi barang yang tabu, namun komunikasi tetap ada, baik dalam SMS, telepon maupun facebook. Yang penting kualitas komunikasi dipertahankan. Artinya pesan yang dimaksud bisa sampai," ujar Pengamat Pendidikan Arief Rahman saat berbincang belum lama ini.

Lebih lanjut Arief memandang perlu diperhatikan kualitas pesan yang disampaikan. "Apakah pesan tersebut punya makna yang mendalam atau tidak, apa hanya sekadar informasi," sambungnya.

Dia juga tak mempermasalahkan surat menyurat telah ditinggalkan oleh generasi muda. "Nggak menjadi masalah, yang penting ada komunikasi. Bahwa adanya pergeseran kebiasaan ya harus kita terima dengan baik. Jadi nggak antiteknologi," papar Arief.

Justru guru atau pengajar mampu membuat suatu pendidikan bagaimana cara menulis yang berkualitas. "Perlu ya pelajaran menulis, kan sudah ada dalam bahasa Indonesia," jelasnya.

Dalam kesempatan berbeda seorang guru di lingkungan Taman Kanak-Kanak berpendapat bahwa tradisi surat menyurat masih penting diterapkan buat anak sedari kecil.

"Bukan hanya bahasa menulis saja, namun dengan terbiasa menulis surat. Anak dapat dilatih ketekunannya, dan dapat belajar sopan santun serta disiplin," kata Syafrida, pengajar TK Permata Indah, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Wanita setengah baya ini mengatakan, meski surat bukan asli kebudayaan Tanah Air namun mau tidak mau surat telah mewarnai sejarah republik ini.

"Supersemar, Surat Perintah Sebelas Maret, itu kan sejarah bagaimana sebuah surat dapat mengubah peta politik bangsa," paparnya.

Sebab itu, di sekolah juga mengenalkan kepada anak-anak tentang surat. Bagaimana bentuknya, apa isinya dan tujuannya. "Jadi kalau sudah lancar menulis, dia akan terbayang, 'oh iya waktu itu saya diajarkan tentang surat. Jadi kalau ada saudara yang berada jauh, dia bisa tulis," tuturnya.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini