Share

Bung Karno, Revolusi Olahraga & Piala Dunia

Dadan Muhammad Ramdan, Okezone · Kamis 17 Juni 2010 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2010 06 17 337 343966 8aUw9adsbB.jpg Gelora Bung Karno (Ist)

JAKARTA - Saat ini masyarakat dunia tengah dihinggapi deman sepak bola. Ya, gelaran Piala Dunia 2010, ajang olahraga terbesar dan paling bergengsi ini menyita perhatian ratusan juta penggemarnya di seantero jagat raya.

Tak terkecuali di Indonesia. Tak sedikit dari para gila bola di tanah air rela merogoh kocek dalam-dalam sekadar membeli tiket untuk menonton langsung jagoannya merumput di lapangan sepak bola di Afrika Selatan. Sementara mereka yang tidak cukup kocek pun, masih bisa menyaksikan pertandingan Piala Dunia dari siaran langsung stasiun televisi.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Arhg..sampai detik ini penduduk Indonesia baru bisa menyaksikan pertandingan dari tim-tim elit negara asing. Hampir 230 juta jiwa dari penduduk Garuda Pancasila ini masih bermimpi tim nasional kesayangannya mampu menggocek si kulit bundar di laga Piala Dunia. Pertanyaannya sampai kapan penantian ini akan berakhir?

Juga tak gelikah bagi pemerintah yang gusar lalu berencana mengeluarkan aturan soal PNS yang terlambat ngantor gara-gara nonton Piala Dunai? Tentunya, yang harus dilakukan Indonesia mulai sekarang adalah berbenah dan belajar banyak dari negara yang sudah sukses di dunia olahraga. Andaikan Soekarno masih ada, mungkin nama Indonesia akan masuk dalam daftar negara-negara peserta World Cup FIFA. Lho, ada apa dengan Bapak Proklamator RI ini?

Kilas balik lebih jauh ke masa awal sejarah penjalanan bangsa Indonesia, memang tidak lepas dari kiprah salah satu putra negeri terbaik, Koesnososro Soekarno, yang karena sakit-sakitan lalu disebut Soekarno saja. Di era 60-an, Indonesia merupakan pelopor inspirasi bagi perjuangan bangsa-bangsa di Asia tidak terkecuali untuk Afrika yang saat itu muncul gemilang nama Soekarno. Kepemimpinan Indonesia di kancah politik dunia bahkan diakui empat negara kuat yakni, Amerika Serikat, Uni Soviet, China dan India.

Saat itu Jepang dan China belum jaya seperti sekarang. Jepang porak-porandan dan merangkak lagi setelah dihadiahi dua bom atom oleh AS, India masih belia pascamerdeka. Setali tiga uang, China pun tengah disibukan dengan agenda besarnya yakni, revolusi kebudayaan. Posisi Indonesia cukup strategis karena menjadi penengah dalam perang dingin antara AS dan Uni Soviet, setelah Soekarno berhasil membidani kelahiran Konferensi Asia-Afrika atau Gerakan Non-Blok pada tahun 1950-an.

Kepiawaian Soekarno di percaturan politik internasional memang tidak diragukan lagi. Bahkan dengan ide dan pemikiran kritisnya, Soekarno mencoba melakukan revolusi di bidang olah raga. Soekarno membukanya dengan langkah berani yang terkenal dengan  Games of The New Emerging Forces (GANEFO).

GANEFO lahir sebagai ajang olahraga tandingan Olimpiade ciptaan Soekarno pada akhir tahun 1962. Soekarno menyatakan bahwa olahraga tidak bisa dipisahkan dari politik. Sebelumnya, dalam pelaksanakan Asian Games 1962, Indonesia melarang Israel dan Taiwan mengikuti Asian Games dengan alasan simpati pada Republik Rakyat Cina dan negara-negara Arab.

Aksi Indonesia ini diprotes oleh Komite Olimpiade Internasional (KOI) yang mempertanyakan legitimasi Asian Games di Jakarta. Federasi Asian Games (FAG) juga akan menskors Indonesia untuk mengikutinya karena Taiwan dan Israel merupakan anggota resmi Perserikatan Bangsa Bangsa.

Indonesia akhirnya diskors untuk mengikuti Olimpiade Tokyo 1964. Akibatnya, Soekarno marah sehingga Indonesia keluar dari KOI. Soekarno menuduh KOI merupakan antek imperialisme. Setahun kemudian, November 1963, GANEFO digelar di Jakarta.

GANEFO berikutnya di Kairo, Mesir tahun 1967 dibatalkan karena masalah politik. GANEFO memiliki semboyan Maju Terus Jangan Mundur (Onward! No Retreat). Indonesia mengundang negara Republik Rakyat Cina dan negara-negara dunia ketiga untuk mengikuti GANEFO.

GANEFO diikuti oleh 2.200 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Eropa dengan 450 wartawan dari berbagai negara datang ke Senayan. GANEFO diboikot oleh negara-negara barat, tetapi GANEFO tetap berlangsung sukses.

Untuk membuktikan keseriusannya merancang olahraga dan sepakbola sebagai kekuatan nasional dan pembangunan karakter bangsa, Soekarno menunjuk mantan kiper nasional R Maladi sebagai Ketua Komando Gerakan Olahraga (KOGOR). Organisasi ini bertugas menyiapkan Asian Games IV di Jakarta. Di bawah perintah Soekarno, kompleks olahraga (Bung Karno Sport Complex) dibangun dari kredit lunak Uni Soviet.

Pemancangan tiang pertama kompleks itu dilakukan oleh Soekarno sendiri pada 8 Februari 1960. Kemudian, satu demi satu sarana olahraga itu pun terwujud. Istana Olah Raga (Istora) selesai dibangun pada 21 Mei 1961, Stadion Renang, Stadion Madya, dan dan Stadion Tenis (Desember 1961), Gedung Basket (Juni 1962), serta Stadion Utama (21 Juli 1962).

Pidato “membangun dunia baru” di New York pada 1960 itu seolah-olah menjadi proklamasi kedua yang diucapkannya, namun kali ini untuk negara-negara dunia ketiga dan bangsa-bangsa Asia. Bangga dengan hasil yang dicapai Indonesia pada AG 1962, Soekarno lalu mengeluarkan Kepres Nomor 263/1963 tentang misi Indonesia masuk dalam 10 besar olahraga di dunia.

Soekarno berharap apabila sepertiga penduduk Indonesia aktif di bidang olahraga sejak SD, maka impiannya akan tercapai. “Revolusi olahraga demi mengharumkan nama bangsa. Olahraga adalah bagian dari revolusi multikompleks bangsa ini,” ucap Soekarno kala itu.

Cita-cita Soekarno menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara besar olah raga dunia memang kandas karena situasi pergolakan politik. Namun betapa tidak, politik olahraga ternyata memiliki kekuatan luar biasa bagi suatu negara.

Kini Soekarno tinggal cerita kenangan, tapi sejatinya ide dan pikiran Soekarno tetap hidup menjadi cerminan bagi generasi berikutnya. Jadi mau sampai kapan Indonesia hanya menjadi penonton setia Piala Dunia?

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini