Share

Soekarno, Sang Pemimpin Revolusioner

K. Yudha Wirakusuma, Okezone · Kamis 17 Juni 2010 15:55 WIB
https: img.okezone.com content 2010 06 17 337 343963 9fT5vZLeMw.jpg Bung Karno (Ist)

JAKARTA – Siapa yang tak kenal sang proklamator bangsa, orang yang pertama kali mengumandangkan kemerdekaan negeri ini. Melalui pekikannya pada 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia seakan memiliki darah baru untuk bangkit dari penjajahan. 

Tak hanya sampai di situ, kalimat-kalimatnya yang bertenaga mampu membuai pendengarnya sehingga mereka rela tinggal berjam-jam di bawah terik matahari hanya untuk mendengarkan suara Bung Karno.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Mungkin siapa pun tak akan menyanggah jika Soekarno amat lihai berpidato di depan podium. Setiap kali ia berorasi, setiap kali itu pula rakyat yang mendengar terhipnotis dan merasakan semangat yang dibawa. Dengan kalimat-kalimat yang bergelora, Ia mampu melecut asa rakyat, dan menaikkan dagu bangsa Indonesia serta melahirkan rasa optimisme.

Putra sang fajar ini pun secara terang-terangan berani berseberangan dengan Amerika dan Inggris yang dianggap sebagai sumber masalah bagi negara dunia ketiga. Salah satu kutipan kalimat yang terlontar dari lidah sang revolusioner ini adalah “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis!”.

Akibat sikap frontalnya terhadap Blok Barat (negara penganut sistem kapitalis), Bung Karno yang ketika kecil bernama Koesnososro Soekarno, dituding sebagai penganut komunis.

Bagi pencinta seni ini, jika negara-negara miskin yang mengandalkan utang negara asing untuk membangun negeri hanya kesengsaraan yang akan didapat. Janji-janji surga yang dinyanyikan oleh pihak asing tak lebih hanyalah alat pengisap kekayaan si miskin yang membuatnya makin terbelakang.

Itulah sosok pemimpin revolusioner Soekarno, yang berapi-api dan bangga akan bangsanya sendiri. Tak ingin berdiri di atas kaki negara asing, walaupun hal tersebut hingga kini tak mampu diwujudkan. Namun pemikiran sang pendiri negeri “berdiri di atas kaki sendiri” memang belum mampu mewujudkan rakyat sejahtera.

Ya, setidaknya berhasil memberikan kebanggaan tanpa menjual harga diri bangsa. Daripada berdiri dan membangun negeri dari belaskasihan utang luar negeri yang melahirkan ketergantungan dan ketidakberdayaan.

Perjuangan Soekarno

Tanggal 4 Juni 1927 mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia(PNI) yang kemudian diubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).

Soekarno ditangkap di Yogyakarta 29 Desember 1929 dan ditahan dipenjara Banceuy. Baru diadili tahun 1930 atas pidato pembelaan diri "Indonesia Menggugat". Divonis 4 tahun bui di penjara Sukamiskin dan keluar dari penjara tahun 1932.

Ditangkap lagi karena menyebarkan risalah "Mencapai Indonesia Merdeka", lalu diasingkan ke Ende Flores selama 4 tahun. Pada 14 Febuari 1938 dipindah ke Bengkulu.

Tahun 1945 Soekarno dan Mohammad Hatta mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (Putera). 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan visi tentang falsafah dan dasar negara yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila.

17 Agustus 1945 teks Proklamasi dibacakan di kediaman Soekarno. Sehari setelah Indonesia merdeka, panitia persiapan kemerdekaan kemudian mengesahkan Soekarno sebagai presiden pertama RI dan Hatta sebagai Wapres.

18-25 April 1955 Soekarno membawa Indonesia berhasil menyelenggarakan Konferesi Asia Afrika di Bandung. 5 Juli 1959, Soekarno mengeluarkan dekrit yang menyatakan berlakunya kembali UUD 1945.

30 september 1960, Soekarno mengingatkan pembebasan Irian Barat dan direalisasikan dengan Trikora. 14 Januari 1999 mendapat tanda penghargaan lencana tugas kencana.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini