Share

Penggalan Karya Emas Pram yang Masih Tercecer

Marieska Harya Virdhani, Okezone · Rabu 16 Juni 2010 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2010 06 16 337 343478 yUGimban0F.gif Mendiang Pramoedya Ananta Toer (Foto: ist)

BOGOR - Sastrawan Pramoedya Ananta Toer wafat pada 30 April 2006 silam. Tak hanya nama besar yang ditinggalkan, Pram juga mewariskan ide brilian dan sejumlah tulisan yang belum sempat dia tuntaskan.

Diakui puteri keempatnya Astuti Ananta Toer, hingga Pram meninggal, banyak tulisan-tulisan ayahnya yang masih tercecer dan belum sempat diterbitkan. Ensiklopedi Citrawi Indonesia, Ensiklopedi Kawasan Indonesia, serta Pro dan Kontra adalah di antara karya Pram yang belum paripurna.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

"Kalau Ensiklopedi Kawasan Indonesia bisa diteruskan oleh siapapun setingkat mahasiswa. Namun kalau Ensiklopedi Citrawi Indonesia, hanya bapak yang bisa. Gaya penulisannya berbeda," tutur Astuti saat okezone mencoba mengajaknya berbincang, di Kediaman mendiang Pram, di bilangan Jalan Warung Ulan 9, Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/06/2010).

Secara eksplisit, Pram memang tidak pernah memintanya untuk meneruskan tulisan-tulisan sang ayah. Meski sinyal permintaan secara tersirat sempat Pram utaranya kepada putrinya , saat dia meminta bertukar termpat tidur menjelang detik-detik Pram menghembuskan nafas terakhir.

"Kamar saya kan di lantai tiga, dan Bapak di lantai dua. Beliau minta bertukar. Ternyata saya dipesan untuk melanjutkan pekerjaan yang ada di perpustakaan di kamarnya," katanya.

Inti pesan Pram, kata Astuti, tetap bermuara pada keinginannya agar Indonesia mampu mendapatkan pemimpin yang bisa mengayomi kaulanya. Bukan budaya korupsi yang masih saja merajalela hingga saat ini. Padahal sejak 1954 silam, Pram sudah menuliskannya secara apik dalam buku berjudul “korupsi”.

Mengenai karya-karya Pram yang tercecer, memang tak terhitung jumlahnya. Mulai dari naskah Pram yang dirampas pada masa kolonial atau diminta paksa oleh penguasa pada zamannya.

Tak kalah tragis, tulisan-tulisannya juga banyak yang hilang bak ditelan bumi di tangan penerbit, tanpa tahu berapa royalti yang harus Pram terima dari karyanya itu.

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini