Share

Karya Pramoedya, Bacaan Wajib Para Aktivis

Marieska Harya Virdhani, Okezone · Rabu 16 Juni 2010 11:56 WIB
https: img.okezone.com content 2010 06 16 337 343459 2gEVDBupEQ.jpg Pramoedya bersama Max Lane pada Januari 1981 (Foto: Ist)

BOGOR - Banyak orang bilang, seseorang belum resmi menjadi aktivis jika belum mengenal sastrawan Pramoedya Ananta Toer, serta melahap habis karya-karyanya. Tulisan-tulisan Pram memang menggugah semangat, meski tidak ditulis dengan gaya provokatif dan menghakimi.

Buku-buku Pram juga menjadi pemompa semangat para aktivis mahasiswa di awal dekade 1998, untuk mengobarkan semangat reformasi serta menggulingkan rezim Orde Baru.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

"Kata Bapak kepada mahasiswa, sebelum reformasi baca buku saya dulu. Hal itu diakui oleh para mahasiswa yang memang mengaku tergerak dengan buku-buku Pak Pram," tutur Astuti, puteri keempat Pramoedya saat ditemui okezone, di kediamannya yang asri di Kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/06/2010).

Bahkan, kata Astuti, semangat perjuangan ayahnya masih terpancar dari mukanya sesaat sebelum pria kelahiran Bolra Jawa Tengah 6 Februari 1925 ini menghembuskan nafas terakhirnya. Pramudya sempat mengepalkan tangan kirinya sambil terbaring lemah untuk menyemangati para pemuda. Pesan itu bahkan sengaja diukir pada nisan makam ayahnya.

"Pesannya pemuda harus lahirkan pemimpin. Menurut Bapak, mengapa pada zaman Soekarno yang dalam keadaan dijajah bisa menghasilkan pemimpin dan kenapa sekarang sulit?" katanya.

Pesan perjuangan memang kental dalam torehan-torehan pena Pramoedya. Sebut saja dalam tetratrologi Bumi Manusia (Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca), Gadis Pantai, Nyanyian seorang bisu I, dan II, Di Tepi Kali Bekasi, Jalan Raya Pos Jalan Daendels. Atau Arok-Dedes, yang alur ceritanya dibuat seperti menyimpang dari sejarah yang biasanya dibaca di buku-buku sejarah atau dikisahkan oleh orang tua kepada anaknya.

Seperti kritis sosial yang Pram sampaikan dalam Bumi manusia yang menggambarkan perjuangan RM Tirto Adisuryo, seorang tokoh pergerakan pada zaman kolonial yang mendirikan Sarekat Priyayi (organisasi nasional pertama).

Latar sosial yang mencakup penggambaran kondisi masyarakat, kelompok-kelompok sosial, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, Pram ramu sedemikian apik dalam novel sebagai sarana dia berjuang.

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini