Share

Pramoedya Mulai Menulis Sejak Kelas 5 SD

Marieska Harya Virdhani, Okezone · Rabu 16 Juni 2010 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2010 06 16 337 343435 7HfzlI38rt.jpg Pramoedya bersama MAx Lane pada Januari 1981 (Foto: Ist)

BOGOR - Sastrawan Pramoedya Ananta Toer berhasil menelurkan puluhan karya sastra selama hidupnya. Betapa tidak, pria kelahiran Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 silam itu, sudah mengasah bakatnya menulis sejak duduk di bangku kelas 5, Sekolah Dasar (SD).

Keahliannya itu juga ditunjang dengan ketersedian buku-buku berbahasa asing di rumahnya, yang kala itu merangkap sebagai perpustakaan Sekolah Boedi Oetomo yang dipimpin ayahnya. Buku-buku dan novel-novel karya penulis kenamaan dunia dia lahap habis dengan kemampuan bahasa asing yang didapatnya secara otodidak.

Seperti dikisahkan oleh Astuti Ananta Toer, putri keempatnya Pram, di kediaman Pramoedya yang luas dan asri, di bilangan di Jalan Warung Ulan 9, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/06/2010).

Ayahnya, kata Astuti, menguasai sejumlah bahasa asing tanpa diajari siapa pun. Bakatnya meramu kata dan merangkai frasa diturunkan dari kakeknya yang hidup pada zaman kolonial Belanda, yang belum banyak terdapat buku berbahasa Indonesia.

“Bapak mulai menulis dari SD kelas 5, kelas 6. Saat itu semua buku bahasa asing, sejak SD Pak Pram sudah baca sastra asing. Berarti kan sejak SD sudah membaca dunia. Tidak heran kalau buku-bukunya Pram dapat diterima di setiap negara, karena ia sudah pelajari dunia,” katanya.

Buah dari kegemarannya membaca karya-karya pujangga kenamaan dunia itulah, Pram memulai karirnya sebagai “kurir sasrta” alias menerjemahkan sejumlah novel karangan penulis ternama dunia.

Pada tahun 1950-an, Pram sudah menerjemahkan novel John Steinbeck dengan tajuk Tikus dan Manusia, Kembali pada Tjinta Kasihmu, novel Leo Tolstoy, masih pada tahun yang sama, Perjalanan Ziarah yang Aneh, novel Leo Tolstoy, pada 1954, Kisah Seorang Prajurit Sovyet, novel Mikhail Sholokov, pada tahun yang sama, dan Ibunda, novel terkenal dari Maxim Gorky, serta masih banyak lagi terjemahan novel asing karya penulis terkemuka dunia yang diterjemahkannya.

Dan penulis-penulis terkenal itulah yang mewarisi karkater tulisannya dalam beberapa karya yang dihasilnya kemudian. Beberapa di antaranya adalah John Steinbeck dan Maxim Gorky. “Saya memang meneladani karkater tulisan “plastik” mereka yang seperti film,” kata Pram beberapa waktu lalu.

Itu benar adanya, tulisan Pram memang kaya dengan detil cerita yang membuat pembaca seolah dibawa ke alam dimana latar Pram mengutarakan kisahnya. Hal ini juga diakui oleh Astuti. Belum ada keturunan Pram yang mampu menandingi kebesaran nama dan kiprah ayahnya di dunia sastra.

“Bapak sosok yang langka. Dari satu juta yang timbul hanya satu. Dia punya bakat luar biasa. Tidak ada yang bisa menyamai Pram,” tuturnya penuh kebanggan.

Sebagai anak, dia juga merasa sangat kehilangan sosok ayahnya yang bijaksana dan karismatik. “Pak Pram orang yang tak pernah marah. Tak usah banyak bicara, dipandang saja kami sudah takut. Kharismanya beda, raut wajahnya, misalnya tangannya dilambaikan karena menolak saja kami sudah nangis. Enggak tahu kenapa, beda dengan ayah yang lain,” tandasnya.

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini