Komunis ala Stalin Tak Laku, Trotsky Punya Tempat

Fitra Iskandar, Gin Gin Tigin Ginulur, Okezone · Selasa 12 Januari 2010 07:29 WIB
https: img.okezone.com content 2010 01 11 337 293072 hMkEhDhRuJ.JPG Demonstrasi KTT G20 di Pittsburgh.(foto:ist)

 JAKARTA - Sebagian kalangan masih mengkhawatirkan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kekhawatiran itu bisa dilihat dari masih adanya spanduk-spanduk di pinggir jalan yang mengingatkan bahaya laten PKI dan tanggapan miring terhadap akun Facebook PKI 2010.

 

Memang meski PKI sudah dibubarkan lebih dari 30 tahun yang lalu, namun paham komunis tidak serta merta mati. Sejumlah orang baik berkelompok maupun secara perorangan, masih meyakini ajaran yang ditularkan filsuf Karl Marx itu sebagai ajaran yang lebih baik dibanding sistem kapitalis.

 

Di Indonesia sendiri banyak pihak menganggap kekhawatiran terhadap ancaman komunisme terlalu berlebihan. Persoalannya, negara pengusung komunis seperti Uni Soviet telah hancur, China pun kini begitu mengakomodir sistem kapitalisme. Sementara negara komunis lain seperti Korea Utara, Kuba tidak lagi menarik, karena secara ekonomi dan sosial dianggap lebih memprihatinkan kondisinya ketimbang negara nonkomunis.

 

Lagi pula, pascaperistiwa 1965 tidak ada orang yang berani secara terang-terangan mengaku sebagai komunis atau penerus PKI.

 

Di Indonesia kelompok yang masih “memercayai” komunisme sebagai solusi bernegara mungkin masih bisa dihitung jari. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa dan kalangan anak muda yang tidak puas dengan segala ketimpangan yang terjadi.

 

“Tapi hanya sebatas diskusi, atau aksi di jalan. Yang benar-benar berkiblat ke PKI sepertinya tidak ada ya,” ujar Reiza salah seorang aktivis beraliran Marxist.

 

Dia mengakui komunisme saat ini telah habis, hal itu bisa dilihat dari kegagalan Uni Soviet, dan suramnya Korea Utara, serta memudarnya ideologi komunis di China.

 

Komunisme, memang tidak laku lagi dan dianggap telah mati. Namun kata dia, komunisme yang mati itu sebenarnya adalah hanya komunisme yang faksi stalinis. Dan saat ini yang tengah bergerak dan berkembang yaitu sosialis yang beraliran Trotsky.

 

Di Eropa, kata Reiza, ada yang namanya organ Sosialis Workers, Marxist Tendency, Committee Workers International, Fift International dan lain-lain.

 

Organ-organ kiri ini menyebar jaringan ke mana-mana. Sejauh ini aktivitas yang paling menonjol dari organ-organ ini adalah melakukan aksi-aksi demonstrasi antiglobalisasi, atau perdagangan bebas G8, Apec dan lain-lain.

 

“Itu berkembang di Eropa Barat, kalau di Eropa Timur kurang,” jelas pria yang 6 kali ke Eropa hanya untuk berdemonstrasi atau berdiskusi dengan organ kiri di Eropa itu.

 

Apa bedanya aliran sosialis Stalinis dengan Trotsky? secara sederhana, Faksi Trotsky lebih menginginkan tidak ada negara namun sosialis internasional, sedangkan Stalinis menganggap masih memerlukan negara.

 

“Perbedaan besar, Stalinis sosialisme di satu negara, sementara Trotsky meyakini sosialis international, tidak ada negara,” paparnya.

 

Bagaimana dengan Indonesia. Jaringan kelompok Trotsky ini di Indonesia sangat kecil. Dia mencontohkan, Rumah Kiri memiliki kontak dengan International Marxist Tendency karena pernah mengundang aktivisnya ke Indonesia. Sementara itu PRD, yang sudah bubar dekat dengan Demokratic Socialist Party Australia. Tapi itu dulu, entah sekarang.

 

“Salah satu situs kelompok sosialis internasional saat ini juga ada versi Indonesianya. Saya tidak tahu itu jaringannya ke mana, siapa yang membantu menterjemahkannya,” katanya.

 

Gerakan-gerakan sosialis Trotsky ini masih terbilang damai. Mereka mengorganisir diri menyikapi isu-isu buruh, kesehatan publik dan menentang rasisme, atau menentang perang.

 

Di beberapa negara mereka juga ikut pemilu dengan berkoalisi dengan partai yang ada seperti di Prancis dan Inggris dengan membuat koalisi bernama Respect. Tidak ada kekerasan.

 

Menurut Reiza, aktivitas kalangan kiri ini di Indonesia juga tidak jauh berbeda. Mereka berdiskusi, dan berdemonstrasi menentang kebijakan yang dianggap tidak adil. Untuk mengubah Indonesia menjadi sosialis, keinginan itu ada tapi masih cita-cita.

 

Kemudian, menyinggung soal munculnya akun Facebook PKI 2010, menurut dia akun itu bukanlah gerakan yang secara serius dilakukan dan terorganisir. Akun itu bukan ancaman munculnya kembali PKI.

 

“Itu sih pekerjaan tidak serius, hanya orang-orang iseng. Mungkin orang yang kecewa dengan keadaan di Indonesia,” kata Reiza.

 

Aktivis lain Bilven, yang ditemui okezone di Bandung juga berpendapat sama. Akun Facebooknya itu dianggap hanya kerjaan orang iseng yang kecewa.

 

Disinggung apakah akun tersebut bisa menjadi tanda-tanda munculnya kembali PKI di Indonesia, Bilven tersenyum. Menurut dia, terlalu berlebihan jika pemerintah menganggap paham komunis muncul kembali.

 

“Itu ketakutan yang berlebihan. Lagipula kalau ditelusuri sejarah yang benar, bukan PKI yang seharusnya ditakuti, tetapi pembunuhan terhadap PKI. Kenapa harus takut terhadap PKI? tanya Bilven yang pernah berurusan dengan aparat kepolisian gara-gara menggelar diskusi Marxis beberapa tahun lalu itu.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini